Annual Report for 2015

Senangnya karena walaupun saya memakai platform wordpress.org tetap bisa memiliki Annual Report yang memberikan informasi secara komprehensif dengan tampilan yang menarik mengenai seluruh hal-hal yang berkaitan dengan Cagak Urip ini.

Dari mulai masalah postingan, pengunjung, para komentator, bahkan sampai traffic source mereka sajikan datanya. Saya sangat berterima kasih kepada Jetpack yang memiliki fitur Annual Report ini. Dulu ketika masih menggunakan platform wordpress.com, saya juga sering mendapat notifikasi mengenai adanya Annual Report ini pada akhir tahun. Tapi saya tidak menyangka, bahwa fitur Annual Report tersebut juga bisa saya peroleh pada platform wordpress.org. πŸ™‚

Seperti apa sih, bentuk Annual Report itu? Biar tidak semakin penasaran, silahkan klik saja gambar di bawah ini.

Annual Report 2015
Annual Report 2015

Bagaimana dengan Anda? Apakah aktivitas nge-blog Anda bisa optimal di sepanjang tahun 2015 ini? Sudahkah membuat Annual Report untuk blog Anda? :mrgreen:

Continue reading “Annual Report for 2015”

Welcome to Switzerland: Bern

Switzerland atau yang lebih kita kenal dengan Swiss, merupakan salah satu negara di Eropa yang terletak di tengah dan berbatasan langsung dengan Perancis, Jerman, Italia, Liechtenstein, dan Austria. Karena berbatasan dengan negara-negara tersebut, maka menjadikan Swiss sebagai negara yang unik. Negara ini menggunakan 3 bahasa, yaitu Perancis, Jerman, dan Italia. Jika kita bepergian dari satu kota ke kota yang lain, misalnya dari Jenewa menuju Zurich, maka akan tampak sekali perbedaannya. Dari cara bicara orang-orangnya, sampai rambu dan tanda-tanda di sepanjang jalan. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada peta di bawah ini, bagaimana posisi Swiss dengan negara-negara tetangganya.

Peta Swiss
Peta Swiss

Posisi Swiss di tengah-tengah ini juga mencerminkan kenetralannya. Swiss adalah sebuah negara di Eropa yang tidak pernah terlibat perang dengan negara manapun. Oleh karena itu, tidak heran jika organisasi tingkat dunia seperti PBB mendirikan kantor di negara tersebut yang berada di Jenewa. Selain itu banyak juga orang-orang kaya (para konglomerat) dunia menyimpan uang dan harta kekayaannya di Swiss karena memandang negara ini sebagai negara yang stabil dan aman.

Ibu kota Swiss adalah Bern dan memiliki dua buah bandara internasional yang berada di Zurich dan Jenewa. Selain itu masih terdapat pula beberapa kota-kota lainnya yang cukup terkenal, antara lain; Interlaken, Lausanne, Lucerne, dsb.

Pada postingan yang lalu sudah diceritakan bagaimana perjalanan saya dari Singapura menuju Zurich, dan untuk kali ini saya akan sharing pengalaman ketika berada di Swiss selama beberapa hari.

Continue reading “Welcome to Switzerland: Bern”

Trip to Zurich, Switzerland

Switzerland atau yang lebih kita kenal dengan Swiss, adalah sebuah negara di Eropa yang sangat terkenal dengan coklatnya. Selain itu, masih banyak lagi hal-hal yang menarik tentang Swiss. Nanti akan kita bahas satu persatu. πŸ™‚

Pemandangan di Zurich
Pemandangan di Zurich

Alhamdulillah, beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan untuk berkunjung ke sana, tepatnya pada tanggal 3 sampai dengan 6 November 2015. Saya menempuh rute penerbangan via Dubai, karena menggunakan Emirates. Di Dubai saya transit cukup lama, sekitar 6 jam. Ya cukuplah untuk berjalan-jalan di dalam kawasan Dubai Airport. Kaki saya sampai pegal karena berjalan kesana kemari tak tentu arah. Hanya melihat-lihat barang di Duty Free, kemudian berkeliling demi mencari bangku panjang untuk rebahan dan meluruskan punggung setelah 7 jam di pesawat.

Di situlah perbedaan antara Changi dan Dubai. Apabila di Changi Airport, kita akan dengan mudahnya mencari tempat untuk sekedar rebahan atau tidur-tiduran. Seapes-apesnya, kita bisa tidur ngampar di manapun, karena seluruh area dilapisi dengan karpet. Selain itu di Changi juga terdapat aneka macam hiburan untuk mengisi waktu saat transit, termasuk di antaranya bioskop.

Sedangkan di Dubai, hampir semuanya menggunakan ubin. Jadi kalau memang Anda merasa berkulit tebal, silahkan saja ngampar di manapun yang Anda suka. πŸ˜† Kemudian saya harus berjalan cukup jauh hanya untuk menemukan bangku panjang yang bisa digunakan untuk rebahan. Saya kurang tahu pasti, ini karena saya yang tidak tahu atau memang bangku panjangnya memang jarang. πŸ™ Selain itu, tidak adanya sarana hiburan yang cukup, paling-paling hanya nonton siaran sepak bola di cafe atau restoran yang tersedia. Di lantai atas juga terdapat semacam lounge, sih. Tapi tentu saja tidak gratis. πŸ˜₯ Setelah penuh perjuangan, akhirnya saya menemukan sebuah tempat yang terdapat bangku panjangnya. Tidak perlu menunggu lama hingga saya terlelap di sana. πŸ˜†

Continue reading “Trip to Zurich, Switzerland”

Gemerlap Cahaya di Orchard Road

Bagi Anda yang sudah pernah atau sering ke Singapura tentunya sudah sangat familiar dengan nama Orchard Road. Sebuah ruas jalan yang di kanan kirinya banyak tersebar mall dengan bangunan yang megah dan menjual barang-barang branded. Mall di sepanjang Orchard Road selalu menjadi incaran dan tujuan utama para wisatawan yang berkunjung ke Singapura, terutama turis dari Indonesia. Meskipun harganya mahal-mahal, tapi nyatanya masih tetap banyak orang-orang Indonesia yang berbelanja di sana.

Gerbang Orchard Road
Gerbang Orchard Road

Entah mengapa Orchard Road seolah memiliki daya tarik tersendiri. Mungkin karena pihak Singapura pintar mengemasnya. Terkadang mereka menambahkan ornamen-ornamen yang unik dan lucu. Atau mengadakan semacam live show di sepanjang Orchard, sehingga menarik lebih banyak lagi pengunjung.

Continue reading “Gemerlap Cahaya di Orchard Road”

Sekilas Cerita Ketika Ahok Gegerkan Singapura

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih dikenal dengan Ahok, beberapa bulan yang lalu tepatnya pada tanggal 19 Oktober 2015, sempat membuat heboh masyarakat Indonesia yang ada di Singapura. Tokoh yang cukup kontroversial dengan gayanya yang ceplas-ceplos ini, rupanya cukup mengambil hati para masyarakat Indonesia yang berada di Singapura.

Basuki Tjahaja Purnama, kerap disapa Ahok
Basuki Tjahaja Purnama, kerap disapa Ahok

Pada awalnya, rencana Ahok ke Singapura adalah untuk bertemu dengan para investor dari Singapura yang akan diajak untuk bekerja sama dalam membangun infrastruktur di Jakarta. Namun, sebenarnya diam-diam Ahok juga punya agenda lain yaitu semacam talent scouting untuk menjaring para profesional muda Indonesia yang berada di Singapura untuk pulang kembali dan ikut serta membangun Jakarta.

Namun, berita mengenai kedatangan Ahok ini tersebar dengan cepatnya bagaikan api yang tersiram bensin. Program awal yang berupa talent scouting, akhirnya berubah menjadi 1 Jam Bincang Bersama Ahok. Kegiatan ini diprakarsai oleh FKMIS (Forum Komunikasi Masyarakat Indonesia Singapura) dengan dukungan penuh dari KBRI Singapura.

Pada mulanya FKMIS hanya mengundang paling tidak 50-an orang profesional muda yang siap untuk turut berpartisipasi dalam membangun Jakarta. Namun hanya dalam hitungan hari bahkan jam, animo masyarakat sangat tinggi. Mereka tidak ingin melewatkan kesempatan ini untuk dapat bertatap muka secara langsung dengan Ahok. Setelah 4 hari sejak dibuka pendaftaran, jumlah peserta sudah menyentuh angka 1000-an orang, benar-benar jauh dari yang diperkirakan sebelumnya.

Hadirin di dalam ruang Ripta Loka
Hadirin di dalam ruang Ripta Loka

Untuk mengantisipasi hal ini, akhirnya panitia menyediakan tenda tambahan untuk menampung para peserta, selain Ruang Riptaloka tentunya. Dua monitor pun sudah disiapkan agar peserta yang kebagian tempat di luar Ruang Riptaloka dapat memantau secara langsung seluruh kegiatan di dalam gedung.

Continue reading “Sekilas Cerita Ketika Ahok Gegerkan Singapura”

Masjid Kampung Siglap

Hari Jumat kali ini, saya tidak melaksanakan Sholat Jumat di Masjid Istiqomah sebagaimana biasa. Sepulang dari Singapore Expo, mengingat waktu yang sudah mepet, saya memutuskan untuk keluar dari tol ECP menuju arah Bedok. Kemudian saya berhenti dan memarkir mobil di depan SIS (Sekolah Indonesia Singapura). Seingat saya, di sekitar SIS terdapat masjid, karena setiap Jumat saya melihat banyak kendaraan yang diparkir di tepi jalan tepat di depan SIS.

Walaupun saya belum tahu pasti masjidnya ada di mana, tapi saya tetep pede, toh nanti juga akan ada barengannya, yaitu saudara-saudara muslim yang akan menuju masjid. :mrgreen: Dan benar saja, di depan SIS sudah banyak berjajar kendaraan yang terparkir rapi. Selain itu juga terlihat beberapa orang yang memakai baju koko, lalu saya ikuti saja mereka. πŸ˜†

Akhirnya sampai juga di masjid yang bernama Kampung Siglap Mosque itu. Masjid dua lantai lengkap dengan menara itu sudah dipenuhi jamaah yang ingin melaksanakan Sholat Jumat. Saya sangat merasa excited, karena ini pertama kalinya bagi saya untuk melaksanakan ibadah Sholat Jumat di luar Masjid Istiqomah, yang berada di dalam komplek KBRI Singapura.

Saya kebagian tempat di lantai dua, mengingat lantai satu sudah penuh. Untuk naik ke lantai dua bisa menggunakan tangga, ataupun menggunakan lift. Khutbah dilaksanakan dalam Bahasa Inggris, namun di dinding bagian depan terdapat beberapa monitor layar datar yang menayangkan terjemahannya ke dalam Bahasa Melayu. Entah mengapa, saya merasa Bahasa Melayu yang digunakan lebih dekat kepada Bahasa Indonesia, ketimbang Bahasa Melayu yang digunakan di Malaysia.

Selesai melaksanakan Sholat Jumat, saya sempatkan untuk mengambil foto dari depan masjid sebagai kenang-kenangan. Hasilnya dapat Anda lihat di bawah ini. πŸ™‚

Continue reading “Masjid Kampung Siglap”

Akhirnya Bisa Nge-Band Lagi

Chatsworth Band
Chatsworth Band

Setelah sekian lama gantung stick, akhirnya kesampaian juga main drum lagi. Dulu ketika masih SMA, saya sempat tergabung dalam sebuah Band bersama teman-teman, namanya Tropical Party. Waktu itu, kami sempat mengikuti beberapa festival dan pagelaran musik. Yah, lumayanlah untuk pengalaman meskipun hanya masih di tingkat daerah. Sekarang mantan anggotanya sudah tersebar dan sudah memiliki kehidupan masing-masing. 😎

Saya sendiri tidak pernah mengikuti les ataupun kursus musik. Maklum, saya kan dulu hidupnya di kampung, ndeso lagi. :mrgreen: Saya bisa main drum sedikit-sedikit merupakan hasil dari autodidak dan tidak pernah ada yang mengajari. Saya hanya sering melihat bagaimana orang bermain drum di TVRI, stasiun televisi favorit dan satu-satunya kala itu. Saya senang ketika menonton acara-acara musik di televisi. Dulu drummer yang paling saya ingat adalah Jimmy Manopo. πŸ™‚

Entah mengapa, ketika mendengarkan sebuah lagu, suara yang sangat mudah nyantol di kuping saya adalah suara drumnya. Kadang secara tidak sadar tangan dan kaki mengikuti ketukan lagu yang sedang saya dengarkan.

Saya masih ingat, dulu awal-awal bermain drum, karena belum mampu membeli stick beneran, saya membuatnya dari gagang sapu (maklum, saya ini kan wong ndeso) :mrgreen: . Saya serut sampai bentuknya menyerupaiΒ  stick drum. Dengan berbekal stick tersebut, kami latihan di berbagai studio penyewaan alat-alat musik band. Alhamdulillah, tidak ada snare drum yang pecah karenanya. πŸ˜†

Continue reading “Akhirnya Bisa Nge-Band Lagi”