Surat Terbuka Kepada Dubes RI Singapura, Bapak Andri Hadi

Assalamu’alaikum wr. wb.

Yang terhormat Duta Besar LBBP RI untuk Republik Singapura, Bapak Andri Hadi, sebelumnya izinkan kami untuk menyampaikan salam hormat kepada Bapak serta mohon maaf atas kelancangan kami untuk menulis surat terbuka ini. Surat ini tidak bermaksud apa-apa, hanya sebagai sebuah bentuk apresiasi kepada Bapak dan Ibu yang nyata-nyata telah menebarkan energi positif, tidak hanya di dalam lingkungan KBRI Singapura semata, namun juga di lingkungan negeri Singapura pada umumnya.

Bapak Dubes Andri Hadi dan Ibu Ferial Hadi
Bapak Dubes Andri Hadi dan Ibu Ferial Hadi

Continue reading “Surat Terbuka Kepada Dubes RI Singapura, Bapak Andri Hadi”

Singgah Sejenak ke Geneva (Jenewa)

Peta Swiss
Peta Swiss

Geneva atau biasa kita sebut dengan Jenewa adalah salah satu kota di Swiss yang berdekatan dengan negara Perancis. Di kota inilah banyak terdapat kantor-kantor Organisasi Internasional, seperti PBB, ILO, WHO, dan UNHCR. Ya, selain di New York, PBB juga memiliki Markas Besar untuk wilayah Eropa yang berada di Geneva. Di Geneva ini pula banyak ditelurkan berbagai macam konvensi atau perjanjian Internasional yang kemudian diratifikasi / diakui oleh sebagian besar negara-negara di dunia.

Entah ada kaitannya atau tidak, dengan banyaknya Organisasi Internasional yang berkantor di kota ini, dulu Geneva pernah dinobatkan sebagai kota dengan biaya hidup paling mahal di dunia. Sebelum akhirnya rekor tersebut berhasil diambil oleh Singapura. 😳

Mengapa saya mengambil kesimpulan demikian? Karena dengan banyaknya Organisasi Internasional yang berkantor di Geneva, maka otomatis banyak orang asing / expatriat yang tinggal di kota tersebut. Biasanya, kota yang banyak ditinggali oleh kaum expatriat, biaya hidupnya akan selalu meningkat. Tapi hipotesis saya ini belum tentu benar 100 %, loh ya. :mrgreen:

Pada beberapa postingan sebelumnya saya sempat menceritakan bagaimana perjalanan saya menuju Zurich, sekilas mengenai Bern – ibu kota negara, dan sedikit mengenai Interlaken, sebagai salah satu tempat wisata alam terindah di Eropa. Nah, rasanya kurang lengkap jika saya belum meceritakan bagaimana kunjungan singkat saya ke Geneva. 😎

Pada perjalanan di kota-kota sebelumnya saya biasa menggunakan sarana transportasi kereta api. Namun kali ini sedikit berbeda. Karena ada salah satu rekan senior yang kebetulan mengantar tamu ke Bern dengan menggunakan mobil, akhirnya saya nebeng beliau untuk menuju ke Geneva.

Pada waktu itu kami berangkat dari Bern sudah menjelang petang, sehingga agak sulit untuk mengabadikan pemandangan di sepanjang jalan. Tapi pada umumnya hampir sama dengan pemandangan yang ditemui di Zurich maupun Bern. Hamparan padang rumput hijau yang luas dengan bangunan yang jarang-jarang dihiasi oleh pepohonan yang sudah mulai menguning karena sudah memasuki musim gugur.

Kami menempuh perjalanan melalui jalan tol dengan rute Bern – Geneva via Lausanne selama kurang lebih 3 jam. Hujan deras yang mengguyur sepanjang perjalanan dan hari yang mulai gelap, membuat kami lebih berhati-hati. Bahkan, sebelum memasuki kota Geneva, kami sempat berhenti terlebih dahulu untuk mengisi bahan bakar sekaligus membeli minuman hangat.

Mulai mendekati Geneva, papan-papan petunjuk arah dan reklame mulai berubah. Jika sebelumnya menggunakan Bahasa Jerman, maka kini mulai menggunakan Bahasa Perancis. Pun demikian dengan orang-orangnya. Logat sengau khas Perancis terdengar lebih dominan.

Sampai di apartemen teman saya waktu itu sudah malam, sekitar jam 10 an. Kebetulan rekan senior dan teman saya ini tinggal dalam satu gedung apartemen yang sama namun berlainan unit. Setelah membongkar titipan oleh-oleh, seperti biasa kami melewatkan malam dengan mengobrol ngalor ngidul, mengenang kembali masa lalu.

Keesokan paginya, kami bertiga menuju ke kantor PTRI Jenewa. Jalur yang kami lintasi lumayan padat, meskipun tidak separah Jakarta. Dibandingkan dengan KBRI Bern, gedung kantor PTRI Jenewa menurut saya sedikit lebih besar. Meskipun bangunannya lebih pantas disebut sebagai rumah tinggal ketimbang kantor. :mrgreen:

PTRI Jenewa
PTRI Jenewa

Continue reading “Singgah Sejenak ke Geneva (Jenewa)”

Jalan-jalan ke Interlaken, Swiss

Kalau sebelumnya sudah diceritakan bagaimana perjalanan saya menuju Swiss dan sedikit petualangan di Bern, maka kali ini saya akan mencoba berbagi cerita ketika saya mengunjungi Interlaken beberapa bulan yang lalu.

Menyambung cerita sebelumnya, setelah melihat pertunjukan laser di depan Bundesplatz, kami segera pulang ke penginapan dan mempersiapkan tenaga untuk keesokan harinya. Ya, kami berencana untuk jalan-jalan ke Interlaken, yang konon katanya memiliki view (pemandangan) yang sangat indah, plus merupakan pusat oleh-oleh khas Swiss.

Malam itu, sambil leyeh-leyeh, kami mengobrol ngalor-ngidul sembari sesekali melihat ke layar televisi yang ternyata semakin malam, acaranya semakin “ajaib”. Rasanya tidak perlu saya uraikan di sini seberapa ajaibnya acara televisi di Swiss selepas pukul 12 malam. :mrgreen: Karena saking lelahnya, tak lama kami pun tertidur pulas.

Pagi harinya, usai berkemas kami pun segera melangkahkan kaki menerobos dinginnya udara pagi. Tampak asap mengepul dari mulut ketika kami berbicara. Rasanya aneh sekali. Maklum wong ndeso, seumur-umur baru kali ini saya pergi ke sebuah negeri yang ada musim dinginnya. 😆 Saat kami berjalan menuju halte bus, kami berbarengan dengan anak-anak kecil yang akan pergi ke sekolah dan beberapa orang dewasa yang akan berangkat bekerja.

Aktivitas di Pagi Hari
Aktivitas di Pagi Hari
Suasana Kota Bern di Pagi Hari
Suasana Kota Bern di Pagi Hari

Dari halte Steingrubenweg, kami menuju stasiun Bern Bahnhof untuk mencari sarapan dan dari sanalah kereta yang akan kami tumpangi menuju Interlaken bermula. Selesai sarapan, kami pun segera memeriksa jadwal dan rute kereta. Ada 2 alternatif yang dapat digunakan. Yang pertama kita bisa saja menaiki kereta yang menuju Spiez, kemudian berpindah ke kereta yang menuju Interlaken, atau bisa juga menggunakan kereta yang langsung ke Interlaken dari stasiun Bern Bahnhof, hanya saja jeda waktunya lebih lama.

Kami sepakat untuk menggunakan kereta yang transit terlebih dahulu di Spiez. Selain jadwalnya lebih sering, juga karena kami juga ingin melihat-lihat stasiun Spiez seperti apa. Namanya juga nge-bolang, jadi ya jangan tanggung-tanggung. :mrgreen:

Continue reading “Jalan-jalan ke Interlaken, Swiss”

Tancap Gas di Awal Tahun

Jam
Jam

Melewatkan pergantian tahun sebagaimana pergantian hari-hari biasa. Tidak ada yang istimewa. Mengawali aktivitas di awal tahun dengan segudang agenda yang sudah menunggu. Seolah tidak ada jeda untuk sekedar menghela nafas atau menyapa hari-hari pertama di tahun yang baru.

Masuk hari pertama, langsung tancap gas, mengerjakan rutinitas seperti biasa plus beberapa agenda tambahan yang lumayan menyita waktu. Kadang sempat terpikir, apakah saya yang kurang bisa mengatur waktu, atau memang load-nya tidak sebanding dengan waktu yang saya miliki?

Saya sudah mencoba untuk memulai lebih awal, mendahulukan hal-hal mana saja yang menjadi prioritas, namun tetap saja pulang sebelum azan Maghrib berkumandang itu menjadi sesuatu yang terlalu mewah buat saya. Sempat terlintas di benak saya, inikah profesi abdi negara yang sering dipandang sebelah mata oleh sebagian orang? Yang konon katanya kerjaannya enak, bisa pulang cepat, hanya santai-santai di kantor. Tapi mengapa yang saya alami tidak demikian?

Saya bukan mengeluh, apalagi menyesal. Karena ini memang sudah menjadi pilihan saya. Yang saya heran adalah, di mana letak kesalahannya, sehingga kok rasanya waktu itu masih kurang untuk menyelesaikan sederet pekerjaan yang menunggu. Mungkin ada di antara Anda yang bisa memberikan solusi atau sharing pengalamannya? 😉

Continue reading “Tancap Gas di Awal Tahun”