Berkunjung Ke Kota Gurindam

Apakah Anda bingung mau jalan-jalan ke mana? Butuh referensi tempat wisata atau rekreasi?Jangan bingung, negeri kita menyediakan begitu banyak pesona wisata dan panorama alam yang menunggu untuk dijamah. :mrgreen:

Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya ketika berkunjung ke Tanjung Pinang. Sebenarnya momen ini sudah lama sekali, seperti halnya lomba mewarnai yang diikuti oleh putri kami Nasywa. Namun saya pikir, sangat disayangkan jika kesempatan untuk mempopulerkan potensi pariwisata di Indonesia ini dilewatkan begitu saja. 😎

Tanjung Pinang merupakan ibu kota Provinsi Kepulauan Riau yang terletak di Pulau Bintan. Kota Tanjung Pinang sering pula disebut dengan Kota Gurindam. Mengapa demikian? Sebelum saya jawab, pernahkah Anda mendengar tentang Gurindam Dua Belas? Atau pernahkah Anda mengenal sosok seorang Raja Ali Haji? Jika belum, maka Anda harus membaca artikel ini sampai habis. :mrgreen:

Kota Gurindam
Kota Gurindam

Kepulauan Riau merupakan salah satu Provinsi yang terbilang masih muda di Republik Indonesia. Dulunya masuk ke dalam wilayah Provinsi Riau, namun pada tahun 2002 mereka memutuskan untuk berdiri sendiri sebagai sebuah provinsi baru yang ditetapkan dengan Undang-undang no. 25 tahun 2002.

Meskipun tergolong provinsi yang masih baru, tapi potensi Kepulauan Riau ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Dengan aset utamanya seperti Pulau Batam dan Pulau Bintan yang memiliki berbagai macam resort tentu menjadi nilai tambah tersendiri bagi provinsi ini, di samping hasil kekayaan laut yang memang melimpah. Salah satu ikon yang terkenal adalah Gong Gong. Sejenis siput laut yang konon katanya hanya ada di Kepulauan Riau. Rasanya mirip seperti kerang ataupun cumi-cumi.

Gong Gong
Gong Gong

Letak geografis yang berbatasan langsung dengan negara tetangga juga menjadi salah satu faktor pendongkrak potensi pariwisata di provinsi ini. Bentuknya yang berupa kepulauan membuat moda transportasi air menjadi salah satu moda transportasi utama yang menghubungkan dari satu pulau ke pulau lainnya. Wisata bahari juga menjadi salah satu komoditi pariwisata andalan dari provinsi ini.

Senja Di Dermaga Bintan Pura
Senja Di Dermaga Bintan Pura

Dari segi historis, Kepulauan Riau juga memegang peranan penting terutama dalam hal perkembangan Bahasa Melayu yang akhirnya bermetamorfosis menjadi bahasa resmi negara kita, Bahasa Indonesia. Salah satu tokoh yang terkenal dalam sejarah perkembangan Bahasa Melayu adalah Raja Ali Haji, seorang ulama, sejarawan, dan pujangga abad ke-19 yang merupakan  keturunan Bugis dan Melayu.

Raja Ali Haji terkenal sebagai seorang pencatat pertama mengenai dasar-dasar Tata Bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa, yang kemudian menjadi standar Bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar itulah yang akhirnya dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia. Beliau merupakan keturunan kedua (cucu) dari Raja Haji FisabilillahYang Dipertuan Muda IV dari Kesultanan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis.

Selain itu, salah satu karya besar Raja Ali Haji adalah Gurindam Dua Belas. Gurindam Dua Belas ini berisi tentang petuah, norma, tata krama, adat istiadat, serta hal-hal lain yang mengatur adab dalam bermasyarakat. Dua belas bukan berarti gurindam ini terdiri dari 12 bait, namun gurindam ini terdiri dari 12 pasal. Untuk lebih lengkapnya Anda dapat melihat pada postingan saya sebelumnya.

Pulau Penyengat
Pulau Penyengat

Belum lengkap rasanya jika kita berkunjung ke Tanjung Pinang tapi tidak menyempatkan diri untuk menyeberang ke Pulau Penyengat. Pulau Penyengat adalah tempat di mana Raja Ali Haji dilahirkan. Pulau tersebut tidak terlalu besar, namun memiliki nilai sejarah yang tiada terkira. Konon, pulau tersebut merupakan hadiah Sultan Mahmud atau Raja Ahmad yang tidak lain tidak bukan adalah ayah dari Raja Ali Haji kepada istrinya (ibunda Raja Ali Hali) yaitu Encik Hamidah binti Panglima Malik Selangor (Raja Selangor) atau biasa juga disebut dengan Engku Putri Raja Hamidah.

Masjid Raya Sultan Riau
Masjid Raya Sultan Riau

Di tengah-tengah pulau, terdapat Masjid dengan desain elok yang bernama Masjid Raya Sultan Riau. Dengan dominasi warna kuning dan sedikit corak hijau membuat masjid ini sangat mencolok dari kejauhan. Masjid ini mulai dibangun di masa kepemimpinan Sultan Mahmud atau Raja Ahmad, atau lebih tepatnya seiring dihadiahkannya pulau ini kepada Engku Putri Hamidah.

Meriam di Pulau Penyengat
Meriam di Pulau Penyengat

Di beberapa titik, masih terdapat meriam yang menghadap ke laut. Dulu meriam-meriam ini digunakan untuk mempertahankan diri dari kapal-kapal penjajah yang melintasi perairan pulau tersebut. Selain meriam, masih terdapat pula bangunan bersejarah lainnya, antara lain gudang mesiu dan Balai / Rumah Adat tempat penduduk setempat mengadakan pertemuan-pertemuan.

Gudang Mesiu Pulau Penyengat
Gudang Mesiu Pulau Penyengat
Balai Adat Pulau Penyengat
Balai Adat Pulau Penyengat

Di Pulau Penyengat ini pula Raja Ali Haji dimakamkan. Makam beliau berada satu kompleks dengan makam ibundanya. Di makam tersebut kita dapat melihat hasil karya beliau, yaitu Gurindam Dua Belas yang dipahat pada dinding yang mengelilingi makam tersebut.

Makam Raja Haji Fisabilillah
Makam Raja Haji Fisabilillah
Makam Raja Ali Haji
Makam Raja Ali Haji

Setelah puas berjalan-jalan mengelilingi Pulau Penyengat, saatnya kita kembali ke Tanjung Pinang. Di kota ini ada satu kedai kopi yang sangat terkenal, yaitu Kedai Kopi Hawai. Jangan tanyakan mengapa diberi nama Kopi Hawai, namun yang pasti kopi ini sangat lezat sekali. Saya bukan seorang penikmat apalagi ahli kopi. Tapi ketika saya minum Kopi Hawai ini, yang saya tahu ini adalah kopi terenak yang pernah saya minum seumur hidup saya. Mungkin terdengar agak berlebihan, tapi percayalah, saya mengatakan yang sesungguhnya. Jika tidak percaya, silahkan datang dan cicipi sendiri! :mrgreen:

Kedai Kopi Hawai
Kedai Kopi Hawai
Kopi Hawai nan Nikmat
Kopi Hawai nan Nikmat

Jadi tunggu apa lagi? Saatnya kita majukan potensi pariwisata domestik kita.  😉

Untuk melihat koleksi foto-foto saya yang lebih lengkap, silahkan kunjungi photoblog saya di http://cagakurip.blogspot.com

Salam.

 

Author: Tatang Tox

Hanya manusia biasa / kawulo alit yang senang menulis dan fotografi.

4 thoughts on “Berkunjung Ke Kota Gurindam”

  1. wah ini sih lebih lengkap dari postingan saya mas… mulai dari sejarah, kuliner sampai ke potensi wisatanya.

    Kalo bicara gurindam, saya jadi ingat ketika turun di Bandara Raja Haji Fisabilillah, ada plakat gurindam yang nempel di tembok kan? Gurindam 1 sampai 12. Bahasanya indah dan penuh makna.

    1. Aiwulfric : yep, you damn right! Indonesia sesungguhnya penuh pesona, tinggal kitanya saja yang mau menjadikannya seperti apa. 😉 Tapi kenapa harus terhubung ke masalah perut yah? 😆

Leave a Reply