Career Satisfaction

Sebelum dimulai, saya ingin mengingatkan bahwa apa yang saya tuliskan di sini adalah murni berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya serta belum melalui pengkajian ilmiah tertentu. Saya bukan seorang ahli HRD atau psikolog, saya juga bukan seseorang yang ahli di bidang manajemen. Jadi, mohon dimaklumi seandainya apa yang nantinya saya sharing di sini kurang sesuai karena masih bersifat relatif. 😳

Berbicara masalah karir, tentunya banyak aspek yang berkaitan dengan hal tersebut. Aspek-aspek yang terkait tentunya sangatlah kompleks, dari ekonomi, manajemen, psikologi, dan hukum. Karir juga merupakan sesuatu yang bersifat sangat pribadi, karena menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan personalitas seseorang.

Ketika seseorang memilih sebuah bidang pekerjaan sebagai pilihan karirnya, tentu ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut dapat berupa :

  • Latar belakang pendidikan
  • Kesukaan atau hobi
  • Skill atau kemampuan yang dimiliki
  • Latar belakang budaya
  • Kesempatan atau opportunity

Contohnya saya, ketika dulu bekerja di sebuah perusahaan swasta, maka yang mendorong saya memilih pekerjaan tersebut adalah karena adanya faktor kesempatan / opportunity dan sedikit faktor latar belakang pendidikan. Untuk Skill, adalah sesuatu yang saya peroleh kemudian setelah melalui sebuah proses training. Bagaimana dengan Anda? Faktor apa sajakah yang mempengaruhi Anda untuk memilih karir yang dilakoni saat ini? :mrgreen:

Tingkat Kepuasan Karir

Ketika kita bertanya kepada seseorang, apakah mereka puas terhadap karir mereka atau tidak, tentu jawabannya bisa bermacam-macam, dari a sampai z. Hal ini karena tingkat kepuasan itu bersifat sangat relatif. Tingkat kepuasan tiap-tiap orang akan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Seorang Direktur sebuah perusahaan bisa jadi belum puas dengan apa yang sudah dimilikinya, namun seorang pedagang toko kelontong bisa jadi sudah memiliki kepuasan terhadap apa yang sudah dimilikinya. Oleh karenanya, saya mencoba memetakan pertanyaan di atas ke dalam dua bagian yaitu:

1. Apakah Anda puas dengan pilihan karir sekarang?

Maksud pertanyaan ini adalah untuk mengetahui apakah Anda sudah puas dengan jenis karir yang sedang anda jalani sekarang, misalnya saat ini Anda bekerja sebagai seorang karyawan sebuah pabrik otomotif ternama, atau menjadi seorang akuntan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ekonomi, atau bahkan menjadi seorang abdi negara alias Pe eN eS (Pegawai Negeri Sipil).

Sekali lagi saya akan mengilustrasikan sesuai dengan pengalaman hidup saya. Awalnya saya bekerja sebagai seorang engineering di sebuah perusahaan Jepang. Pada waktu itu, saya mengambil kesempatan yang sudah terpampang di depan mata. Saya masih fresh graduate, belum memiliki pengalaman kerja sama sekali, oleh karenanya saya menggunakan kesempatan itu untuk mencari pengalaman. Setelah memasuki dunia kerja yang sesungguhnya, saya baru mengetahui bahwa ternyata bidang yang saya geluti ternyata lebih condong ke bidang mesin industri, padahal background pendidikan saya adalah elektronika – telekomunikasi. Cukup berseberangan, meskipun bisa saja menyeberang dengan menggunakan ‘jembatan penyeberangan’. :mrgreen:

Bekerja di sana cukup menyenangkan, jujur saja saya banyak memperoleh ilmu dan pengatahuan baru. Selain itu, saya juga mendapatkan kesempatan untuk training di pedalaman negeri sakura selama kurang lebih 3 bulan. Lalu apakah saya puas dengan pilihan karir sebagai seorang engineer? Ternyata saya menemui beberapa hal yang kurang pas. Hal-hal itu antara lain:

  • Saya mengalami kebingungan mau dibawa kemana karir saya kelak. Saya sudah prediksi, bahwa karir saya ke depan akan begitu-begitu saja, karena untuk tetap berada di sana saya merasa tidak memiliki amunisi yang cukup mengingat background pendidikan yang kurang sesuai.
  • Saya merasa pendidikan yang sudah saya tempuh menjadi sia-sia, karena hanya kurang dari 10 % yang saya gunakan untuk mendukung pekerjaan saya, selebihnya saya peroleh berdasarkan training dan pengalaman di lapangan.
  • Saya juga menjadi bimbang ketika ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, karena disiplin ilmu yang saya miliki sebelumnya lumayan ‘tidak nyambung’ dengan bidang pekerjaan saya. Di satu sisi, saya memiliki minat yang tinggi terhadap bidang TIK, namun di sisi lain bidang pekerjaan saya lebih kepada mesin industri.

Akibat hal-hal yang kurang pas tersebut, maka kemudian terbersit dalam pikiran saya untuk mulai mencari bidang pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan. Pada satu titik itulah saya merasa bahwa karir yang sudah selama kurang lebih 5 tahun (telat banget nyadarnya 😳 ) saya geluti ternyata tidak memberikan saya kepuasan.

Untuk ketidakpuasan terhadap jenis karir, biasanya memang disebabkan oleh hal-hal yang bersifat pribadi atau dari sisi internal si pekerja. Meskipun tidak menutup kemungkinan ada pengaruh faktor-faktor dari luar juga.

2. Apakah Anda puas dengan unsur-unsur penunjang karir Anda sekarang?

Ketika berbicara mengenai unsur-unsur penunjang karir, maka kita akan mendapatkan jawaban yang sangat beraneka ragam. Unsur-unsur penunjang tersebut dapat berupa: pendapatan, suasana kerja, reward and punishment, kesempatan berekspresi, kesempatan mengembangkan diri, jenjang karir, dan karakter atasan.

Dan ketika pertanyaan itu kita lontarkan ke seseorang secara random, maka hampir dapat dipastikan jawabannya hampir sama, yaitu TIDAK.

Berbicara mengenai unsur-unsur penunjang karir, maka akan melibatkan dua belah pihak yaitu employee (pekerja) dan employer (orang yang memperkerjakan). Kedua belah pihak ini sering berada pada posisi yang berseberangan. Misal, seorang employee menuntut kenaikan gaji, namun di sisi employer, perusahaan / instansi harus melakukan efisiensi mengingat tingginya tingkat inflasi dewasa ini.

Sebuah perusahaan tentu saja tidak dapat memuaskan seluruh pegawainya, karena kepuasan yang bersifat relatif tadi. Tingkat kebutuhan hidup antara satu pegawai dengan pegawai yang lain tentu tidaklah sama. Seorang bujangan tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan pegawai yang sudah berkeluarga.

Ketidakpuasan seorang employee terhadap salah satu unsur penunjang, selain dapat menghambat bussiness process perusahaan / instansi, juga dapat menyebabkan ketidakpuasan pula terhadap jenis pilihan karir yang dijalani dan berujung pada keluarnya si employee untuk memilih jenis karir yang lain.

Win-win Solution

Setelah kita mengetahui hal-hal apa saja yang dapat mempengaruhi kepuasan dalam karir, maka langkah selanjutnya adalah mencoba mencari solusi yang dapat diterima semua pihak baik employee maupun employer.

Meskipun tingkat kepuasan employee bersifat relatif, namun sejatinya masih dapat terukur dengan mengambil parameter-parameter yang lebih general. Misalnya tingkat pendapatan. Employer hendaknya melakukan survei mengenai tingkat kelayakan hidup employee secara objektif dan kemudian diambil rata-rata. Meskipun kebutuhan antara satu orang dengan yang lainnya tidak persis sama, namun dapat ditarik sebuah benang merah berapa besar sebenarnya living cost yang harus dikeluarkan. Untuk hitung-hitungan lebih detil akan lebih baik jika menggunakan jasa konsultan atau orang yang ahli dalam hal manajemen, mengingat ini akan sangat berpengaruh terhadap pengeluaran, pendapatan, serta profit yang akan diperoleh.

Terkadang materi tidak selalu menjadi hal yang utama dalam menentukan tingkat kepuasan dalam karir. Suasana kerja yang nyaman, kebebasan berkespresi, serta kesempatan mengembangkan diri juga dapat menjadi faktor penentu tingkat kepuasan dalam bekerja. Bisa saja gaji tidak terlalu besar (ya, katakanlah cukup) tapi lingkungan tempat kerja memberikan rasa aman, nyaman, memberikan ruang untuk bebas berekspresi, serta ada kesempatan untuk pengembangan diri melalui training atau kursus-kursus, tentu Anda akan berpikir dua kali untuk meninggalkan pekerjaan tersebut. Oleh karenanya pihak manajemen (employer) harus memperhatikan hal-hal semacam ini demi menjaga stabilitas performa karyawannya (employee).

Jenjang karir yang jelas juga patut menjadi pertimbangan. Tidak adanya jenjang karir yang jelas akan membuat seseorang merasa stuck, tidak ada target atau obsesi yang harus diraih, dan semakin lama akan kehilangan semangat dalam bekerja. Kalau orang Jawa bilang nglokro. Hidup segan mati tak mau. Untuk menghindari hal-hal semacam ini, hendaknya manajemen membuat pemetaan terhadap seluruh jenis karir yang ada di perusahaan / instansinya. Harus ada pattern yang jelas untuk tiap-tiap jenis karir sesuai dengan kompetensi masing-masing dan jangan sampai sebuah karir mandeg di posisi yang nanggung. Ketidakjelasan jenjang karir tentu akan mengakibatkan ketidakpuasan pekerja yang dapat berimbas kepada produktivitas kerjanya dan ujung-ujungnya menurun pula performa sebuah instansi / perusahaan.

Karakter atasan juga ikut memberikan pengaruh terhadap tingkat kepuasan karir seseorang. Meskipun kita sulit sekali mendapatkan sosok seorang pemimpin yang benar-benar ideal, namun karakter seorang atasan sangat mempengaruhi suasana kerja dan produktivitas orang-orang yang bekerja di bawahnya. Misalnya saja kita memiliki seorang atasan yang sangat otoriter, tentunya akan membuat kita tidak nyaman dan cenderung merasa tertekan dalam bekerja, bukan? Berbeda dengan seorang atasan yang tegas namun dia low profile dan mau turun ke lapangan, maka kita pun akan merasa segan (bukan takut lho ya.. 😉 ). Seorang leader yang mau sering turun ke bawah untuk memantau pekerjaan bawahannya, menurut hemat saya akan menimbulkan kedekatan emosi yang positif untuk mendongkrak produktivitas. Dengan begitu, akan terjalin komunikasi yang cair antara pimpinan dan bawahan, sehingga masing-masing pihak dapat mengkomunikasikan hal-hal yang menjadi ganjalan agar dapat dicari solusinya secara bersama-sama.

Career Development Life Cycle

Berikut ini saya mencoba membuat sebuah flowchart dalam kaitannya dengan pengembangan karir:

Career Development Life Cycle
Career Development Life Cycle

Dari gambar tersebut dapat dilihat adanya simbiosis antara employee dan employer. Keduanya saling membutuhkan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Kepuasan seorang karyawan / employee akan termanifestasi ke dalam sebuah performa kerja yang bagus. Performa yang bagus tersebut tentunya akan mendongkrak produktivitas sehingga target / program perusahaan/ institusi dapat tercapai dengan baik. Dari profit yang diperoleh, sebagian dialokasikan untuk memberikan reward atas prestasi kerja yang dicapai oleh employee. Dengan memperoleh reward tersebut, tentunya seorang employee akan semakin tergugah untuk bekerja lebih baik lagi dan memberikan yang terbaik demikian seterusnya.

Jadi untuk menutup tulisan ini, perlu diingat bahwa masing-masing memiliki peranan yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Yang paling utama adalah mencoba melakukan yang terbaik sesuai porsinya, sesuai hak dan kewajibannya, serta menjadi pribadi yang lebih bersyukur. Niscaya dengan lebih bersyukur, kita akan senantiasa terhindar dari penyakit hati, utamanya iri dan dengki. Gunakan energi kita untuk melakukan sesuatu yang lebih positif dan membangun demi kemajuan organisasi.

Salam.

Author: Tatang Tox

Hanya manusia biasa / kawulo alit yang senang menulis dan fotografi.

Leave a Reply