Mendadak Pancasila

Garuda Pancasila
Garuda Pancasila

Beberapa hari terakhir tiba-tiba kita melihat banyak sekali teman dan saudara kita yang memasang profile picturenya dengan menambahkan gambar Garuda Pancasila lengkap dengan tulisan #SayaIndonesiaSayaPancasila.

Apakah ada yang salah dengan itu?

Sebelum melangkah lebih jauh, izinkan saya bercerita sedikit. Saya termasuk generasi 90-an, di mana pada saat itu masih digalakkan program pemerintah yang namanya Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Pada waktu itu, setiap akan memulai tahun ajaran baru di sekolah, terutama buat siswa baru harus mengikuti yang namanya Penataran P4. Jika ada yang tidak mengikuti atau jumlah jam yang diikuti kurang memenuhi standar kelulusan, maka dia harus mengulang di tahun berikutnya dengan adik-adik kelasnya. 😆

Lantas apa saja sih yang dipelajari dalam Penataran P4 tersebut? Di dalamnya kita akan belajar mengenai Pancasila, sejarahnya, butir-butir yang terkandung di dalamnya, dan hal-hal yang terkait dengannya, seperti Wawasan Nusantara, UUD 1945, dan GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara).

Nah, pasca reformasi, Penataran P4 ini dihapuskan karena dianggap peninggalan Orde Baru. Pokoknya pada waktu itu yang berbau Orde Baru diharamkan, mau itu baik atau jelek. Saat itu bangsa kita sedang euforia untuk mencari jati dirinya kembali. Menurut saya pribadi, jati diri itu sebenarnya sudah ada dari jaman dahulu, hanya perlu digali kembali.

Maka jangan heran kalau kita tanya kepada anak jaman sekarang apakah itu Pancasila, mereka akan bingung menjawabnya. Atau bila disuruh menyebutkan sila-sila dalam Pancasila masih belepetan, apalagi 45 butir yang ada di dalamnya. Padahal katanya itu dasar negara dan jati diri bangsa lho. 😆

Continue reading “Mendadak Pancasila”

Kartini dan Feminisme

Siapakah R.A. Kartini? Mengapa dia bisa menjadi tokoh emansipasi wanita dan dianggap sebagai pelopor gerakan feminisme di tanah air? Apa yang membuatnya istimewa, bahkan hari lahirnya pun kita peringati setiap tahun? Padahal di tanah air kita juga memiliki begitu banyak pahlawan wanita yang tidak kalah tangguh dalam melawan penjajah. Sebut saja, Tjoet Njak Dien, Tjoet Meutia, Martha Christina Tiahahu, Dewi Sartika, dsb. Saya yakin, sebagian orang dan golongan ada yang berpikir demikian. Tidak perlu saya jelaskan siapa mereka itu. :mrgreen:

Raden Ajeng Kartini (Ibu Kartini)
Raden Ajeng Kartini (Ibu Kartini)

Sebelum melangkah lebih jauh, saya akan mencoba mengajak Anda untuk pergi ke masa lampau, yaitu di masa ketika Kartini masih hidup. Kartini hidup saat negeri kita ini masih dalam masa penjajahan oleh Belanda dan masih kental dengan tradisi Jawa yang lebih bersifat patriarkis. Di bawah hegemoni Belanda, akses rakyat jelata terhadap ilmu pengetahuan dan pendidikan sangatlah terbatas. Hanya para petinggi atau pimpinan daerah sajalah yang keluarganya diperkenankan untuk mengenyam pendidikan, itupun sangat terbatas, apalagi untuk kaum wanita pada masa itu.

Kartini adalah segelintir orang yang bisa dikatakan beruntung karena sempat mencicipi pendidikan meskipun tidak terlalu tinggi. Paling tidak di situ dia bisa belajar baca tulis, bahkan menguasai Bahasa Belanda, maklum karena dia kan memang bersekolah di sekolah Belanda. Dia bisa mengenyam pendidikan karena dia adalah putri seorang Bupati Jepara yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat.

Ada yang berpendapat, karena bersekolah di ELS (Europese Lagere School) inilah yang mempengaruhi pemikiran Kartini tentang feminisme. Sekarang coba Anda bayangkan kondisi pada saat itu, ketika akses pendidikan untuk pribumi sangat terbatas, belum seperti sekarang ini ketika sekolah ada di mana-mana. Yang ada hanya sekolah yang didirikan oleh penjajah, tentunya ayah Kartini tidak memiliki banyak pilihan bukan? Sekali lagi Kartini termasuk beruntung, karena sang ayah merupakan orang yang melek pendidikan. Bagaimana jadinya, jika sang ayah juga merupakan orang tua feodal yang masih sangat saklek terhadap budaya patiarkis pada waktu itu?

Continue reading “Kartini dan Feminisme”

Berkunjung Ke Kota Gurindam

Apakah Anda bingung mau jalan-jalan ke mana? Butuh referensi tempat wisata atau rekreasi?Jangan bingung, negeri kita menyediakan begitu banyak pesona wisata dan panorama alam yang menunggu untuk dijamah. :mrgreen:

Kali ini saya akan berbagi pengalaman saya ketika berkunjung ke Tanjung Pinang. Sebenarnya momen ini sudah lama sekali, seperti halnya lomba mewarnai yang diikuti oleh putri kami Nasywa. Namun saya pikir, sangat disayangkan jika kesempatan untuk mempopulerkan potensi pariwisata di Indonesia ini dilewatkan begitu saja. 😎

Tanjung Pinang merupakan ibu kota Provinsi Kepulauan Riau yang terletak di Pulau Bintan. Kota Tanjung Pinang sering pula disebut dengan Kota Gurindam. Mengapa demikian? Sebelum saya jawab, pernahkah Anda mendengar tentang Gurindam Dua Belas? Atau pernahkah Anda mengenal sosok seorang Raja Ali Haji? Jika belum, maka Anda harus membaca artikel ini sampai habis. :mrgreen:

Kota Gurindam
Kota Gurindam

Continue reading “Berkunjung Ke Kota Gurindam”

Apa Itu Gurindam?

Tahukah Anda apa itu Gurindam? Atau lebih tepatnya, pernahkah Anda mendengar Gurindam Dua Belas?

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), gurindam /gu·rin·dam/ adalah sajak dua baris yg mengandung petuah atau nasihat (misal: baik-baik memilih kawan, salah-salah bisa jadi lawan).

Gurindam merupakan salah satu khazanah budaya bangsa Indonesia. Sekilas gurindam akan tampak serupa dengan pantun. Tapi jika diperhatikan secara lebih seksama, maka akan terlihat perbedaan antara gurindam dan pantun.

Gurindam termasuk puisi lama dari budaya Melayu yang terdiri atas dua baris dalam satu bait. Kalimat baris pertama menyatakan perbuatan dan kalimat baris kedua menyatakan akibat yang timbul dari perbuatan itu. Sedangkan pantun terdiri atas sampiran dan isi. Pada pantun, sampiran dan isi boleh jadi merupakan dua hal yang tidak ada hubungannya, kecuali memiliki rima atau sajak yang sama. Nah, kini sudah jelas bukan, perbedaan antara gurindam dan pantun?

Gurindam yang paling terkenal dalam karya sastra Indonesia lama adalah “Gurindam Dua Belas” karya Raja Ali Haji yang berasal dari Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Disebut “Gurindam Dua Belas” bukan berarti terdiri atas dua belas bait, melainkan gurindam yang berisi dua belas pasal. Gurindam Dua Belas berisi persoalan ibadah, tugas dan kewajiban raja, adab anak terhadap orang tua, tugas orang tua terhadap anak, dan sifat-sifat bermasyarakat yang baik.

Bagi yang ingin tahu versi lengkap Gurindam Dua Belas, mari kita simak di bawah ini:

Continue reading “Apa Itu Gurindam?”