Kartini dan Feminisme

Siapakah R.A. Kartini? Mengapa dia bisa menjadi tokoh emansipasi wanita dan dianggap sebagai pelopor gerakan feminisme di tanah air? Apa yang membuatnya istimewa, bahkan hari lahirnya pun kita peringati setiap tahun? Padahal di tanah air kita juga memiliki begitu banyak pahlawan wanita yang tidak kalah tangguh dalam melawan penjajah. Sebut saja, Tjoet Njak Dien, Tjoet Meutia, Martha Christina Tiahahu, Dewi Sartika, dsb. Saya yakin, sebagian orang dan golongan ada yang berpikir demikian. Tidak perlu saya jelaskan siapa mereka itu. :mrgreen:

Raden Ajeng Kartini (Ibu Kartini)
Raden Ajeng Kartini (Ibu Kartini)

Sebelum melangkah lebih jauh, saya akan mencoba mengajak Anda untuk pergi ke masa lampau, yaitu di masa ketika Kartini masih hidup. Kartini hidup saat negeri kita ini masih dalam masa penjajahan oleh Belanda dan masih kental dengan tradisi Jawa yang lebih bersifat patriarkis. Di bawah hegemoni Belanda, akses rakyat jelata terhadap ilmu pengetahuan dan pendidikan sangatlah terbatas. Hanya para petinggi atau pimpinan daerah sajalah yang keluarganya diperkenankan untuk mengenyam pendidikan, itupun sangat terbatas, apalagi untuk kaum wanita pada masa itu.

Kartini adalah segelintir orang yang bisa dikatakan beruntung karena sempat mencicipi pendidikan meskipun tidak terlalu tinggi. Paling tidak di situ dia bisa belajar baca tulis, bahkan menguasai Bahasa Belanda, maklum karena dia kan memang bersekolah di sekolah Belanda. Dia bisa mengenyam pendidikan karena dia adalah putri seorang Bupati Jepara yang bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat.

Ada yang berpendapat, karena bersekolah di ELS (Europese Lagere School) inilah yang mempengaruhi pemikiran Kartini tentang feminisme. Sekarang coba Anda bayangkan kondisi pada saat itu, ketika akses pendidikan untuk pribumi sangat terbatas, belum seperti sekarang ini ketika sekolah ada di mana-mana. Yang ada hanya sekolah yang didirikan oleh penjajah, tentunya ayah Kartini tidak memiliki banyak pilihan bukan? Sekali lagi Kartini termasuk beruntung, karena sang ayah merupakan orang yang melek pendidikan. Bagaimana jadinya, jika sang ayah juga merupakan orang tua feodal yang masih sangat saklek terhadap budaya patiarkis pada waktu itu?

Continue reading “Kartini dan Feminisme”

Cari Kos-kosan Dengan Jarimu

Apakah Anda sedang mencari kos-kosan atau kamar sewa? Atau justru ingin menawarkan kamar kosong di rumahΒ Anda untuk disewakan? Lantas apa yang akan Anda lakukan? :mrgreen:

Judul di atas tentunya mengingatkan kita pada era 90-an di mana teknologi internet belum seperti sekarang. Dulu kita sering bergantung pada yang namanya Yellow Pages, sebuah ‘buku sakti’ yang biasa kita dapatkan dari Telkom. Tagline yang digunakan adalah “Cari tahu dengan jarimu” πŸ˜†

Tagline tersebut menurut saya masih sesuai dengan kondisi sekarang. Hanya saja bedanya adalah, jika dulu kita menggunakan jari untuk membuka halaman Yellow Pages dan menelusuri baris per baris, saat ini kita menggunakan jari kita untuk menggerakkan cursor pada layar komputer ataupun mengoperasikan smartphone.

Yup, semuanya kini serba berbasis internet. Dunia menjadi sebuah tempat yang tiada batas. Pada saat yang bersamaan kita dapat berinteraksi dengan saudara-saudara kita di belahan bumi yang lain, seolah kita sedang berada di tempat yang sama. Perkembangan internet benar-benar telah mengubah kebiasaan dan pola berinteraksi manusia.

Oke, kembali pada paragraf pertama di atas. Apa yang akan Anda lakukan jika ingin mencari kos-kosan atau kamar sewa? Biasanya kita akan berkeliling ke suatu daerah atau pemukiman, sambil melihat-lihat apakah ada tanda “Sedia Kamar Kos” di depan rumah atau tidak. Mendatangi satu per satu sambil melihat-lihat kondisinya, dan berpindah ke rumah yang lain jika memang dirasa belum cocok. Paling tidak itulah yang pernah saya lakukan. Maklum, saya ini kan termasuk generasi 90-an. :mrgreen:

Begitu pula bagi Anda yang memiliki kamar kosong yang ingin disewakan. Biasanya akan menempelkan kertas dengan tulisan “Sedia Kamar Kos” atau “Ada kamar kosong”. Yang lebih advance biasanya akan menempelkan di tiang-tiang listrik maupun menyebarkan pamflet di pusat-pusat keramaian. Betul kan? Hayo ngaku! πŸ˜†

Apakah dua hal di atas itu salah? Sama sekali tidak! Hanya saja sekarang ini sudah ada cara yang lebih mudah. Jadi bagaimana caranya?

Serumah dot Com
Serumah dot Com

Continue reading “Cari Kos-kosan Dengan Jarimu”

UBER-lah GOJEK, TAXI ku-GRAB

Kemarin atau tepatnya 22 Maret 2016, kita menjadi saksi betapa masyarakat dari kalangan menengah ke bawah harus berkonfrontasi dengan saudaranya sendiri demi mempertahankan apa yang sudah menjadi mata pencaharian mereka selama ini. Perseteruan antara moda transportasi umum konvensional dengan moda transportasi umum berbasis aplikasi akhirnya mencapai klimaksnya.

Gojek dan Blue Bird
Gojek dan Blue Bird

Sebelumnya, pada tanggal 14 Maret 2016, para pengemudi angkutan umum konvensional sudah menggelar demo meminta angkutan umum berbasis aplikasi supaya ditutup, dan perusahaan penyedia jasa aplikasi tersebut harus angkat kaki dari Indonesia. Mereka berpendapat bahwa sejak kemunculan angkutan umum berbasis aplikasi ini, menurunkan omset / pendapatan mereka. Karena pengguna kini lebih memilih angkutan umum yang berbasis aplikasi tersebut, sebut saja, GoJek, Uber, dan Grab.

Saya pun bukan tanpa alasan menulis judul di atas. Mengapa? Karena itulah aktor utama dalam kisah kesemrawutan masalah pengaturan transportasi umum di negeri kita ini. Merekalah yang saat ini menjadi sorotan dan terlibat dalam persengketaan.

Bibit-bibit perseteruan itu memang sudah mulai tumbuh sejak kemunculan Gojek. Betapa para pengemudi Gojek sering mengalami intimidasi dan tidak jarang penganiayaan dari para pengemudi ojek konvensional. Masalah pun kian meruncing ketika muncul aplikasi Uber dan Grab. Karena yang terusik bukan hanya ojek, melainkan angkutan umum roda 4 termasuk Taxi, Mikrolet, Angkot, Bajaj, dsb.

Isu yang selalu diangkat adalah bahwa sejak kemunculan angkutan berbasis aplikasi ini menurunkan omset mereka. Pendapatan mereka berkurang sementara banyak perut yang harus diisi di rumah. Oke, tapi apakah para pengemudi Gojek, Uber, dan Grab juga tidak memiliki keluarga yang harus diberi makan? Apakah hanya pengemudi angkutan umum konvensional saja yang keluarganya harus diberi makan?

Terlepas dari permasalahan di atas, izinkan saya sekedar berbagi pengalaman selama hampir 3 tahun hidup di negeri tetangga, Singapura. Di sini, kami biasa menggunakan aplikasi Grab untuk mencari taxi. Selain lebih cepat, kita juga tidak harus berjalan ke pinggir jalan untuk mencegat taxi yang lewat. Melalui aplikasi tersebut kita dapat mengetahui taxi mana saja yang posisinya paling dekat dengan lokasi kita. Kita pun dapat memilih jenis taxi yang diinginkan, apakah reguler, premium, atau maxi-cab.

Dari yang saya amati, hampir semua pengemudi taxi di Singapura terdaftar di dalam aplikasi Grab ini, dan semuanya sudah familiar dengan penggunaan Smartphone. Maka ketika muncul aplikasi Grab ini juga tidak ada gejolak, justru mereka melihat ini sebagai sebuah tools yang mampu membantu dalam pekerjaan mereka.

Oh ya, selain Grab, di sini juga terdapat aplikasi Uber. Namun sekali lagi, tidak ada protes ataupun keributan dari para penyedia jasa transportasi di sini. Semuanya berjalan lancar, seolah masing-masing sudah punya pangsa pasar tersendiri.

Ketika saya mengamati apa yang terjadi di tanah air, ada beberapa hal yang menjadi catatan:

Continue reading “UBER-lah GOJEK, TAXI ku-GRAB”

Pelangi Kini Tak Seindah Dulu Lagi

Buat Anda yang mengaku generasi 80-90 an, tentunya masih ingat lagunya Boomerang yang berjudul Pelangi, bukan? Atau Pelangi karya Koes Ploes yang dirilis ulang oleh grup Netral dengan nuansa musik yang lebih gahar? Atau bahkan lagu anak-anak Pelangi-pelangi? :mrgreen:

Masih lekat dalam ingatan ketika saya masih kecil, setelah hujan turun dan kemudian matahari kembali menampakkan diri, maka biasanya pelangi akan muncul serta tampak kontras dengan warna langit yang biru bersih. Aroma khas pasca hujan pun memenuhi udara. Hmm, segar rasanya. Waktu itu saya masih tinggal di Lampung. Sebuah propinsi yang pada saat itu belum mengalami pertumbuhan seperti kota-kota besar pada umumnya. Sebagian besar lahannya masih dimanfaatkan untuk areal persawahan dan perkebunan, sehingga udaranya belum banyak terkontaminasi. 😎

Pelangi hasil gambaran Nasywa
Pelangi hasil gambaran Nasywa

Ketika saya mulai hijrah ke Semarang, sesekali saya masih dapat melihat pelangi pasca hujan. Namun itu pun di daerah yang agak tinggi, seperti misalnya Gombel, Banyumanik, Ungaran dan sekitarnya. Sedangkan ketika saya mulai tinggal di Bekasi dan akhirnya menetap di Cikarang, belum tentu setahun sekali bisa melihat pelangi. πŸ˜₯

Ada beberapa mitos yang berkembang mengenai pelangi ini. Ada yang menyebutkan saat muncul pelangi, itu pertanda para bidadari sedang turun ke bumi layaknya cerita Jaka Tarub – Nawang Wulan. 😳 Di Nusa Tenggara Timur, orang menyebut pelangi dengan Nipamoa. Nipa artinya ular, sedangkan moa artinya haus/kehausan. Jadi mereka menganggap pelangi semacam jelmaan ular yang sedang turun ke bumi untuk mencari sumber air. Dan biasanya mereka akan menelusuri ke arah mana kaki pelangi itu turun. Biasanya kemunculan pelangi akan dikaitkan dengan keberkahan, atau sebagai pertanda alam yang baik. Bahkan ada yang mengganggap pelangi semacam jembatan yang menghubungkan antara surga dan dunia. πŸ™‚

Proses terjadinya pelangi sendiri adalah karena terurainya titik air hujan oleh sinar matahari. Itulah mengapa pelangi sering muncul setelah turunnya hujan. Warna-warna yang ada pada pelangi merupakan komponen spektrum warna dari cahaya putih. Atau dengan kata lain, cahaya putih itu kalau diuraikan akan memunculkan spektrum warna-warni pelangi. Nah, untuk lebih detailnya, silahkan buka buku fisika, yah. Saya juga lieur kalau harus menerangkannya di sini. :mrgreen:  (haduh, kok jadi ngelantur begini sih. 😳 )

Oke, cukup basa-basinya. Jadi apa yang ingin saya ungkapkan adalah, bahwa pelangi merupakan lambang bentuk keindahan, bentuk keberkahan, dan bentuk kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Baik dari proses terjadinya maupun dari bentuk atau wujudnya yang dapat kita nikmati bersama. Tentu kita semua akan sependapat jika pelangi itu indah, betul?

Tapi seperti yang sudah saya singgung di atas tadi, bahwa kita mungkin akan sulit melihat pelangi di daerah perkotaan terutama yang memiliki tingkat intensitas polusi yang tinggi. Karena udaranya sudah bercampur dengan banyak gas-gas polutan yang beterbangan di atmosfer. Selain itu, terlalu banyak gedung-gedung tinggi tentu menjadi suatu masalah tersendiri, yang menghalangi pandangan kita bila ingin melihat pelangi.

Nah, jika dulu pelangi melambangkan sebuah keindahan dan keberkahan (pokoknya sesuatu yang baik-baik, deh), kini pelangi digunakan oleh sebagian orang untuk mewakili golongan tertentu. Golongan tertentu ini mendapatkan “hak” nya setelah mereka diakui secara resmi oleh Paman Sam (Amerika Serikat).

Continue reading “Pelangi Kini Tak Seindah Dulu Lagi”

Kabut Asap, Cepatlah Pergi!

Selama 3 bulan belakangan ini, sebagian besar wilayah Sumatera dan sebagian wilayah Kalimantan diselimuti kabut asap. Sebagaimana kata pepatah, “Tidak ada asap jika tidak ada api”. Kabut asap ini disebabkan tidak lain dan tidak bukan karena adanya pihak-pihak yang melakukan pembakaran hutan dalam proses pembukaan lahan untuk area produksi.

Boleh dibilang, hampir tiap tahun kabut asap ini datang. Pada tahun 2013, ketika saya masih awal sekali hijrah ke Singapura, juga mengalami dampak dari bencana kabut asap ini. Asap tidak saja membuat masyarakat kita di sekitar titik api menderita, namun asap juga sudah mempermalukan negara kita di mata tetangga di kawasan ASEAN. Karena dampak asap ini dirasakan oleh negara-negara tetangga kita seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, bahkan Thailand.

Bagi kami yang saat ini berada di Singapura saja, kabut asap ini sungguh membuat sesak pernapasan. Maka saya tidak sanggup membayangkan bagaimana kondisi saudara-saudara kita yang berada di Sumatera dan Kalimantan? Ketika orang-orang Singapura nyinyir dan sinis (ternyata bukan hanya orang Indonesia yang bisa nyinyir) mengenai kabut asap yang harus mereka rasakan, rasanya ingin saya ajak mereka ke lokasi supaya tahu, bahwa rakyat kami pun menjadi korban. Rakyat kami jauh lebih menderita daripada mereka.

Suasana bertambah keruh saat ada pejabat publik kita yang membuat pernyataan yang sifatnya kontra produktif. Semakin banyak saja orang Singapura yang sinis terhadap pemerintah Indonesia, selain sebagian rakyatnya sendiri tentunya. :mrgreen:

Kondisi kualitas udara ditentukan oleh yang namanya PSI (Pollutant Standard Index). Semakin tinggi nilai PSI maka artinya kualitas udara semakin tidak sehat / berbahaya bagi kesehatan. Berikut ini tabel PSI :

PSI

Descriptor

General Health Effects

0–50

Good

None
51–100

Moderate

Few or none for the general population
101–200

Unhealthy

Everyone may begin to experience health effects; members of sensitive groups may experience more serious health effects. To stay indoors.
201-300

Very unhealthy

Health warnings of emergency conditions. The entire population is more likely to be affected.
301+

Hazardous

Health alert: everyone may experience more serious health effects

Pada saat artikel ini ditulis sebenarnya kondisi kabut asap atau haze (kalau kata orang Singapura) di Singapura sudah turun pada level 71-an, yaitu moderate. Setelah beberapa hari sebelumnya sempat menyentuh angka 300-an. Yang menarik adalah, begitu PSI menyentuh level Very Unhealthy, pemerintah Singapura langsung membuat berbagai program yang melindungi warganya. Dari sekedar mengupdate kondisi PSI melalui media massa dari waktu ke waktu, membagikan masker gratis, meliburkan sekolah, sampai dengan memberikan semacam jaminan sosial khusus untuk warganya yang menderita sakit akibat kabut asap ini.

Lalu apa kabar saudara-saudara kita di Sumatera? Seandainya alat pengukur kualitas udara itu bekerja layaknya thermometer, maka pastilah sudah pecah. Karena levelnya sudah bukan lagi 300-an, melainkan di atas 600 bahkan ada yang mencapai 1000. πŸ˜₯ Sekolah-sekolah diliburkan, roda perekonomian lumpuh. Penyakit ISPA pun menyerang baik orang dewasa maupun anak-anak dan balita. Aktivitas di luar ruangan hampir mustahil dilakukan. Bau asap yang menyengat itu sangat menyiksa dan menyesakkan dada. Beberapa bahkan dikabarkan ada yang sampai meninggal dunia karena menderita infeksi saluran pernapasan akut.

Dari semua yang saya tuliskan di atas, tentunya Anda akan mengaminkan semuanya, kan? Sangat setuju, terutama bagi sebagian yang senang melihat pemerintahan sekarang mendapat raport merah. Itu yang saya heran, mengapa ya ada orang yang senang sekali mencari-cari kesalahan orang lain? Walaupun sudah melakukan sesuatu yang baik pun masih dibilang pencitraan dan sebagainya, apalagi kalau sampai berbuat salah, mungkin bakal sampai standing applause.

Lalu kini pertanyaan yang muncul adalah “di manakah pemerintah”? Benarkah negara tidak hadir untuk warganya? Benarkah Pusat sudah tidak peduli terhadap warga di daerah?

Continue reading “Kabut Asap, Cepatlah Pergi!”

Dunia Dalam Genggaman

Dunia dalam genggaman. Kata-kata tersebut rasanya sudah bukan hal yang mustahil lagi dilakukan di era sekarang ini. Mengapa? Karena dengan alat yang bernama ponsel pintar (smartphone) kita bisa melakukan apa saja. Aktivitas yang dulunya harus dilakukan di PC (Personal Computer) kini dapat dikerjakan melalui perangkat ini. 😎

Dunia dalam genggaman. Kata-kata tersebut rasanya sudah bukan hal yang mustahil lagi dilakukan di era sekarang ini. Mengapa? Karena dengan alat yang bernama ponsel pintar (smartphone) kita bisa melakukan apa saja. Aktivitas yang dulunya harus dilakukan di PC (Personal Computer) kini dapat dikerjakan melalui perangkat ini. 😎

Mungkin dulu kita (red. saya) tidak pernah berpikir atau membayangkan akan mengetik melalui perangkat kecil dalam genggaman tangan saya. Namun sekarang, bahkan membuat postingan blog sekalipun dapat saya lakukan melalui smartphone. Seperti yang saya lakukan saat saya membuat artikel ini. 😎

image

Bukan bermaksud membanggakan diri, hanya saja kebetulan ponsel yang saya miliki adalah HTC One 32 GB. Boleh dibilang saya cukup puas dengan performance-nya. Dengan balutan bodi berbahan logam, membuat ponsel HTC One ini tampak kokoh dan kuat. Overall spesifikasi yang dimiliki cukup mumpuni. Meskipun masih terdapat kekurangan yaitu pada ketahanan batere. Apabila paket data atau WiFi dinyalakan, maka baterenya akan berkurang lebih cepat. πŸ˜₯

Aduh, kenapa malah jadi ngelantur membahas ponsel ya? 😳

Continue reading “Dunia Dalam Genggaman”

Sudahlah, Kami Sudah Lelah

Proses Pemilihan Umum (Pemilu) kali ini terasa sangat berbeda dibanding Pemilu sebelumnya. Perbedaan yang dirasakan adalah tingkat antusiasme masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya. Pada saat Pemilu Legislatif memang masih belum begitu tampak, walaupun sudah mulai terlihat poros-poros yang bermunculan. Poros-poros ini kemudian mengerucut menjadi dua kutub/kubu besar yang saling berseberangan. Dan pada akhirnya Pemilu Presiden dan Wakil Presiden kali ini hanya memunculkan dua pasangan calon.

Begitu keran kampanye dibuka, byurrr!!! Semua informasi yang menyangkut visi, misi segera disosialisasikan oleh masing-masing kubu. Media sebagai ujung tombak dalam proses ini pun akhirnya terbelah menjadi dua. Ketika taipan-taipan media mulai merapat ke salah satu kandidat. Maka dimulailah yang namanya perang informasi. Profesionalisme dan kode etik jurnalistik dikesampingkan demi mendukung salah satu kandidat dan menjatuhkan yang lainnya. Bahkan ada media yang secara terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap salah satu kandidat. Hal semacam ini menurut hemat saya telah menodai apa yang dinamakan kode etik jurnalistik (meskipun saya sendiri kurang paham makanan seperti apakah itu, hanya saja kelihatannya enak, hehehe…).

Metode ini rupanya cukup efektif dalam membentuk opini publik, walaupun di era yang penuh keterbukaan seperti ini, hal tersebut sedikit sulit untuk dilakukan. Masyarakat dapat melakukan riset mandiri dengan mencoba membandingkan sebuah tema berita dari media satu dengan media yang lainnya. Walaupun secara manusiawi pada akhirnya masing-masing orang hanya membaca berita yang ingin mereka dengar.

Continue reading “Sudahlah, Kami Sudah Lelah”