Jalan-jalan Ke Melaka

Hari Ketiga

Hari ketiga merupakan hari terakhir kami di Melaka. Setelah berberes dan memasukkan semua barang bawaan ke mobil, saya pun berpamitan ke Bernard sebagai tuan rumah. Selama kami di sana, dia sering sekali memberikan referensi dan rekomendasi tempat-tempat menarik yang harus dikunjungi. Terakhir sebelum pulang, dia memberitahukan supaya kami juga menyempatkan untuk mampir ke Masjid Selat Melaka. Lalu saya setting GPS di handphone untuk menuju masjid tersebut.

Masjid Selat Melaka atau ada juga yang menyebut dengan Masjid Terapung Selat Melaka, diresmikan penggunaanya pada tanggal 24 November 2006 oleh Yang di-Pertuan Agong Tuanku Syed Sirajuddin Syed Putra Jamalullail yang merupakan Raja Perlis.

Masjid tersebut benar-benar terletak di tepi laut dengan sebagian bangunannya berada di atas air. Apabila saat air laut pasang, maka masjid tersebut seolah-olah seperti sedang terapung, karena tiang-tiang penyangganya sama sekali tidak tampak.

Masjid Terapung Selat Melaka / Masjid Selat Melaka
Masjid Terapung Selat Melaka / Masjid Selat Melaka
Foto keluarga di Masjid Selat Melaka
Foto keluarga di Masjid Selat Melaka

Dari Masjid Selat Melaka, kami pun melanjutkan perjalanan menuju arah pulang. Sebelum memasuki jalan tol Lebuh Raya, kami mampir dulu ke Mini Malaysia & ASEAN Cultural Park.

Mini Malaysia & ASEAN Cultural Park
Mini Malaysia & ASEAN Cultural Park

Konsep tempat ini mirip sekali dengan Taman Mini Indonesia Indah, namun dalam skala yang lebih kecil. Terdiri dari beberapa anjungan dan rumah-rumah adat khas Malaysia dan negara-negara ASEAN. Yang menarik adalah di papan penunjuk arah (Direction Map) terdapat Rumah Sulawesi dan Rumah Indonesia, lantas bedanya apa ya? Bukankah Sulawesi juga bagian dari Indonesia? 😆

Papan Penunjuk Arah di Mini Malaysia & ASEAN Cultural Park
Papan Penunjuk Arah di Mini Malaysia & ASEAN Cultural Park

Sayangnya pada saat itu beberapa anjungan sedang dalam masa perbaikan dan pemeliharaan sehingga tidak semuanya bisa kita lihat satu per satu.

Di dalam masing-masing rumah adat tersebut, kita juga dapat menemukan berbagai macam peralatan yang biasa dipakai oleh penduduk setempat, seperti, alu, kompor kayu, cobek, alat main tradisional, tempat tidur kuno, lemari kayu, televisi hitam putih, radio transistor, dan masih banyak lagi peralatan kuno lainnya.

Terkadang di depan rumah tersebut ada gadis lokal yang sedang memainkan permainan tradisional seperti congklak.

Gadis lokal bermain congklak di salah satu anjungan Mini Malaysia & ASEAN Cultural Park
Gadis lokal bermain congklak di salah satu anjungan Mini Malaysia & ASEAN Cultural Park

Setelah puas mengitari rumah-rumah adat tersebut, ternyata mereka memiliki program pertunjukan seni. Mungkin karena pada waktu itu kami berbarengan dengan satu rombongan turis mancanegara, makanya diadakanlah pertunjukan tersebut. Kalau jumlah pengunjungnya hanya sedikit, saya tidak yakin pertunjukan tersebut diadakan.

Pertunjukan seni tersebut berupa tari-tarian daerah khas Melayu. Dibawakan oleh 3 orang pria dan 2 orang wanita. Pada akhir pertunjukan mereka mengajak penonton untuk ikut menari bersama di atas panggung. Saya termasuk salah satu penonton yang ditodong oleh mereka untuk ikut naik ke atas panggung. Namun, ternyata diam-diam bakat terpendam saya keluar juga. Dengan mudahnya saya mengikuti gerakan mereka. Bukannya sombong, bahkan para turis asing itu turut memberikan apresiasi kepada saya. 😆

Menari bersama di atas panggung di Mini Malaysia & ASEAN Cultural Park
Menari bersama di atas panggung di Mini Malaysia & ASEAN Cultural Park

Selesai pertunjukan menari tersebut, saya dan anak-anak menyempatkan diri untuk naik delman yang terdapat di lapangan tepat di tengah-tengah anjungan. Jadi ingat sebuah lagu : 😆

Pada hari minggu kuturut ayah ke kota

Naik delman istimewa kududuk dimuka

Kududuk samping pak kusir yang sedang bekerja

Mengendali kuda supaya baik jalannya

Duk i dak i duk i dak i duk i dak i duk

Duk i dak i duk i dak suara sepatu kuda.

Naik delman istimewa di Mini Malaysia & Cultural Park
Naik delman istimewa di Mini Malaysia & Cultural Park

Dari Mini Malaysia & Cultural Park, kami pun segera melanjutkan perjalanan pulang ke Singapura. Alhamdulillah, perjalanan lancar dan sampai di Singapura dengan selamat.

Itulah pengalaman kami ketika jalan-jalan ke Melaka. Saking panjangnya sampai postingan ini harus dibuat dengan paginasi. Terima kasih bagi yang sudah rela membacanya sampai habis. 😆

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah merencanakan liburan bersama keluarga tahun ini? Ke manakah destinasi wisata yang akan Anda tuju? Bolehlah di sharing melalui kotak komentar di bawah. 🙂

Sampai jumpa lagi pada artikel yang lain.

Salam hangat selalu. 🙂

NB: Jika ingin melihat koleksi foto-foto tentang Melaka yang lebih lengkap, silahkan kunjungi photoblog saya di http://cagakurip.blogspot.sg/2016/04/jalan-jalan-ke-melaka.html

Author: Tatang Tox

Hanya manusia biasa / kawulo alit yang senang menulis dan fotografi.

10 thoughts on “Jalan-jalan Ke Melaka”

    1. Yup, betul sekali, Mbak Winny. Ditambah lagi tempat kami menginap dekat sekali dengan spot-spot wisata di Melaka, tidak ketinggalan adanya sepeda dari tuan rumah yang sangat bermanfaat. :mrgreen:

  1. Wah keren fotonya yang di atas kapal perang hihihihi… saya suka yang berbau militer begini. Dulu pernah wisata ke markas Armatim di Surabaya, sayangnya nggak boleh bawa kamera 😀

    1. Wah sayang banget yah? Kalau saya perhatikan, tempat wisata di Indonesia sepertinya masih diskriminasi sama orang yang bawa kamera apalagi DSLR. Yang ada kadang malah dipalakin. 😥
      Padahal dengan mengabadikan gambar kan juga sebagai media untuk promosi ya? Kadang saya bingung dengan cara berpikir orang-orang kita. 😯

Leave a Reply