Kesadaran Politik Masyarakat Kita

Dari blog lama sampai akhirnya pindah kemari, sebetulnya saya paling malas untuk membahas masalah politik. Karena bagi saya pribadi, berbicara masalah politik berarti kita berbicara mengenai sebuah ketidakpastian. Semuanya terasa abu-abu dan palsu. Saat ini bilang A, eh, ternyata besok sore sudah bilang Z. Jadi sering saya menggeneralisir bahwa dunia politik adalah dunia yang penuh kemunafikan. 😐

Lalu mengapa kali ini saya menulis hal yang berkaitan dengan politik? Berarti saya juga ikutan munafik dong? 😳 Tunggu dulu, apa yang akan saya tuliskan di sini bukan membahas mengenai hipotesa-hipotesa politik yang saat ini sedang berkembang di negara kita, melainkan lebih menyoroti kondisi sosial masyarakat kita dalam memandang politik itu sendiri. Saya ingin berbagi, sejauh mana masyarakat kita mengerti dan mengenal politik. Karena dengan mengetahui pemahaman masyarakat kita tentang politik, maka kita dapat mengukur kualitas bangsa kita secara general dibandingkan dengan negara lain.

Alasan saya menulis tema ini adalah berasal dari perbincangan dengan seorang teman dari Indonesia yang sudah beberapa tahun hidup di luar negeri, yaitu Singapura. Beliau mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2 di salah satu perguruan tinggi terkemuka di negeri Singa dan sampai saat ini bekerja di perguruan tinggi tersebut. Saat kami menjadi tim KPPSLN, kami sempat bertukar pikiran walaupun sedikit :mrgreen: ,  mengenai dinamika politik yang terjadi di Indonesia, khususnya terkait Pemilu.

Sebelum melangkah lebih jauh, perlu diketahui bahwa ada dua golongan di dalam masyarakat kita, yaitu yang terlibat langsung dalam kancah perpolitikan dan ada pula yang hanya menjadi pengamat saja. Yang terlibat langsung seperti misalnya caleg (calon anggota legislatif), pengurus ataupun anggota partai tertentu, dan simpatisan partai tertentu. Sedangkan kelompok yang lain adalah kelompok masyarakat secara umum, yang biasanya hanya menjadi pengamat bahkan terkadang cenderung apatis dengan masalah perpolitikan.

Masa Kampanye

Pada musim kampanye, dapat kita saksikan ratusan bahkan ribuan orang berbondong-bondong mendatangi lokasi kampanye partai mereka. Pertanyaannya adalah, “Apakah mereka benar-benar memahami esensi dari proses kampanye tersebut?”

Sejatinya, kampanye adalah proses sosialisasi visi misi dan program-program yang akan dilaksanakan oleh partai melalui caleg-caleg mereka. Dalam proses kampanye ini merupakan kesempatan para caleg untuk dapat lebih mengenal massa mereka, sekaligus mencari dan menjaring permasalahan yang dihadapi masyarakat untuk kemudian dicari solusinya ketika mereka duduk di parlemen.

Tapi apa yang terjadi? Massa yang datang pada saat kampanye akbar, ternyata bukan untuk mencari tahu mengenai visi misi maupun program partai mereka, melainkan lebih tertarik kepada bintang tamu yang mengisi acara kampanye tersebut. Karena biasanya, partai akan menggandeng artis-artis ternama untuk turut memeriahkan kampanye mereka. Tidak ada yang salah dengan hal ini, hiburan memang dibutuhkan di sela-sela sosialisasi visi misi ketika kampanye. Namun karena pemahaman masyarakat kita yang masih relatif rendah di dalam bidang politik, akhirnya acara hiburan itulah yang menjadi tujuan utama mereka. Di sinilah terjadi missing link, pesan yang ingin disampaikan tidak mengena kepada masyarakat. Massa yang hadir pada saat kampanye mungkin ribuan, tapi apakah ketika hari pencoblosan dari kesemuanya memilih partai tersebut? Jawabannya: Belum tentu!

Berbeda halnya dengan yang terjadi di negara yang lebih maju. Singapura, contohnya. Ketika musim kampanye, para calon legislatif ini akan mengadakan semacam presentasi dan diskusi secara terbuka di beberapa wilayah. Dan pada saat itu, tidak ada yang namanya artis yang akan mengajak masyarakat untuk bergoyang bersama-sama. Masyarakat yang hadir, memang bertujuan untuk mengetahui visi misi yang diusung si caleg dan partainya. Bisa-bisa hampir dua jam lebih kita hanya mendengarkan orang bicara. Tapi itulah bedanya dengan negara kita, audiens yang hadir adalah memang orang-orang yang ingin tahu dan ingin mengupas lebih dalam tentang caleg dan partainya.

Bayangkan, apabila ini dilakukan di negara kita. Maka yang terjadi adalah, caleg akan berbicara sampai mulutnya berbusa-busa, namun kemudian akan terdengar suara jangkrik. Krik… krik… krik… 😆

Yah, lain ladang lain belalang, lain tempat lain pula situasi dan kondisinya. Kita tidak harus meniru seperti negeri tetangga, namun ini menjadi PR bagi partai dan para calegnya agar menemukan cara yang efektif dalam menyampaikan visi misinya kepada masyarakat awam meskipun diselingi hiburan dalam proses kampanye-nya. Hal ini perlu dilakukan agar masyarakat tidak merasa seperti membeli kucing dalam karung karena tidak mengenal caleg yang akan dipilihnya.

Yang tidak kalah pentingnya, track record seorang caleg atau suatu partai tidak akan dapat dibangun dalam waktu singkat pada masa kampanye saja. Hal itu perlu dibangun melalui suatu proses. Dan untuk pemilu tahun ini, seharusnya performa itu sudah dirintis sejak 5 tahun yang lalu. Agak sedikit janggal apabila ada seorang caleg yang tadinya tidak tampak di permukaan tiba-tiba menjelang pemilu menjelma bak seorang selebritis. Yang demikian itu sudah sepatutnya diwaspadai. :mrgreen:

Kualitas Caleg

Menjelang Pemilu, biasanya mendadak bermunculan para manusia bak malaikat. Mereka memberikan bantuan, dana sosial, dan sumbangan-sumbangan yang tidak jarang angkanya cukup fantastis. Mereka selalu memasang wajah manis, menebar senyum, dan seolah menjadi sosok pahlawan bagi masyarakat. Mereka itulah para caleg yang sedang mengumpulkan massa pendukung mereka. Caleg (Calon anggota Legislatif), adalah orang-orang yang nantinya duduk di Lembaga Legislatif seperti DPR, DPRD, maupun DPD apabila mereka memiliki cukup suara dalam Pemilu.

Duduk di DPR ataupun lembaga legislatif lainnya tentunya menggiurkan, mengingat gaji yang nantinya diperoleh jumlahnya tidak sedikit. Hal inilah yang akhirnya membuat orang berlomba-lomba memperebutkan posisi di dalam pemilu. Bahkan, tidak jarang mereka menggunakan cara-cara yang kurang terpuji ketika dalam proses kampanye, seperti misalnya memfitnah atau melakukan black campaign terhadap caleg lain.

Pada masa kampanye, tidak jarang bermunculan wajah-wajah baru untuk menjadi caleg. Terkadang demi menjaring massa, mereka membuat sesuatu yang atraktif untuk mempromosikan profil mereka. Hal tersebut sah-sah saja, namun apakah visi misi mereka tersampaikan dengan baik kepada masyarakat? Itu yang menjadi pertanyaan. Sebelumnya mohon maaf, bukannya saya meremehkan, caleg-caleg baru yang bermunculan tersebut terkadang belum memiliki kualifikasi dan amunisi yang cukup mumpuni untuk mendapat kursi di parlemen. Beberapa di antara mereka (tidak semuanya juga sih 😳 ) bahkan ada yang sebelumnya pengangguran, akhirnya nyaleg agar bisa mendapat pekerjaan. Bagaimana akan memperjuangkan kepentingan rakyat, jika untuk dirinya sendiri saja masih belum beres? Ini adalah salah satu hal yang mengakibatkan proses demokrasi di negara kita belum maksimal, yaitu kualitas para caleg itu sendiri.

Berikut ini adalah gambar-gambar poster caleg yang menurut saya cukup “unik”. Oh ya, semua gambar tersebut saya ambil dari kapanlagi.com.

caleg01

caleg02

caleg03

caleg04

caleg05

caleg06

caleg07

caleg08

caleg09

caleg10

Bagaimana menurut Anda? Hush, sudah cukup senyum-senyumnya, nanti keterusan ketawa-ketawa sendiri malah repot lho… :mrgreen:

Figur VS Konten

Setelah tadi mengulas tentang masa kampanye dan kualitas caleg, berdasarkan pengamatan saya ada semacam tren yang berlaku di dalam masyarakat kita. Tren itu adalah bahwa masyarakat kita ternyata lebih mengutamakan figur. Jadi ketika mereka sudah merasa nyaman dengan figur tertentu, maka mereka tidak peduli lagi terhadap konten / program yang diusung.

Figur memang diperlukan, namun hendaknya konten /program juga harus tetap diperhatikan. Di sinilah kekurangan masyarakat kita, mereka terlalu dibutakan oleh figur dan kurang kritis dalam melihat konten / program. Padahal konten / program juga harus mendapatkan perhatian, karena nantinya program-program itulah yang akan bersentuhan langsung dengan masyarakat melalui kebijakan yang diambil.

Melalui media massa dan media sosial yang dewasa ini semakin massive, seharusnya masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai konten / program suatu partai atau caleg secara lebih mudah. Bahkan apabila caleg mereka memiliki akun di media sosial, masyarakat dapat menguji caleg-caleg tersebut apakah mereka benar-benar menguasai permasalahan yang akan dihadapi atau tidak. Dengan demikian, secara tidak langsung akan terjadi seleksi alam dan caleg yang tidak memiliki kapabilitas secara otomatis akan terdegradasi.

Ini yang seharusnya kita bangun pada masyarakat kita, kesadaran untuk lebih kritis dan objektif serta tidak mudah terpana oleh silaunya figur yang diidolakan. Mudah-mudahan ke depannya semakin banyak masyakarat kita yang “melek” politik, sehingga tidak mudah menjadi korban gombalisasi para politikus abal-abal. Mari bersama kita saring, agar orang-orang terbaiklah yang duduk untuk menjadi wakil rakyat. Uji dan gojlok mereka agar menjadi wakil rakyat sebagaimana yang kita harapkan. 😎

There’s always hope for our country to be a greater nation.

 

Author: Tatang Tox

Hanya manusia biasa / kawulo alit yang senang menulis dan fotografi.

Leave a Reply