Life Is About Choice

persimpangan-jalanLife is about choice, atau hidup adalah tentang pilihan. Ya, dalam kehidupan kita sering bahkan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Pilihan-pilihan tersebut terkadang tidak mudah, dan kita mesti memilih salah satu di antaranya. Sekali kita memilih, kita harus siap dengan segala konsekuensi yang timbul, apapun itu.

Apa yang saya tuliskan di sini adalah murni dari pengalaman hidup yang saya alami. Jadi apabila ada kesamaan, hal itu semata-mata bukan karena faktor kesengajaan (kaya tulisan di sinetron aja yah… :mrgreen: ) Selain itu, karena ini sifatnya sharing, jadi tidak ada benar atau salah. Semuanya relatif, tergantung sudut pandang masing-masing. Setuju monggo, kalau tidak setuju juga monggo. 🙂

Kalau ditarik ke belakang, sesungguhnya sejak kita masih kecil pun sudah biasa dihadapkan kepada pilihan dalam hidup. Namun karena pada waktu itu belum memiliki kemampuan berpikir dan menganalisa yang cukup mumpuni, maka biasanya kita cenderung dipilihkan ataupun menerima pilihan orang tua kita. Dalam hal memilih sekolah misalnya, orang tua biasanya mengambil peranan sangat dominan. Hal itu dilakukan semata-mata demi kebaikan kita tentunya. Biasanya kita mulai berpikir sendiri untuk menentukan pilihan ketika lulus SMU/SMA. Meskipun tidak sedikit pula orang tua yang turut andil dalam menentukan pilihan kita. 😐

Saya pribadi, saat itu menentukan pilihan untuk mengambil jurusan teknik. Dan alhamdulillah, hal tersebut tidak bertentangan dengan keinginan orang tua saya. Mereka memberi kebebasan kepada saya untuk mengambil jurusan yang saya inginkan. Setelah mengikuti tes, ternyata takdir berkata lain. Saya tidak berhasil lolos ke perguruan tinggi yang saya idam-idamkan. Saya pun dihadapkan pada dua pilihan, menunda sampai tahun depan, atau mencoba mendaftar ke politeknik. Akhirnya setelah melalui pemikiran yang mendalam, saya pun memutuskan untuk mencoba mengikuti tes politeknik. Setelah beberapa tahapan, akhirnya saya lulus dan berhasil masuk Politeknik Negeri Semarang, jurusan Teknik Elektro, dengan program studi Teknik Telekomunikasi.

Saya kemudian menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. Selain belajar di dalam kelas perkuliahan, saya juga memilih untuk mengikuti kegiatan kemahasiswaan. Saya kemudian bergabung ke dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan Elektro dan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Radio Kampus. Banyak cerita dan kenangan semasa di bangku kuliah, dan sedikit banyak mungkin itulah yang membentuk saya seperti sekarang ini. 😳

Begitu pula dengan kisah asmara, ketika akhirnya saya menjatuhkan pilihan kepada seseorang yang bukan orang lain, melainkan orang terdekat sekaligus sahabat saya. Mengapa? Karena bagi saya, prinsip dalam memilih calon pendamping adalah bahwa saat kita berada di depannya adalah kita yang apa adanya, tanpa topeng dan tanpa kepura-puraan. Apalagi ada sesuatu yang tidak dapat saya tuliskan di sini yang membuat saya tidak seleluasa orang lain dalam memilih kekasih. Sesuatu yang saya pikir belum tentu seseorang dapat menerima hal tersebut. 😐

Lulus dari bangku kuliah, saya mengikuti tes ke beberapa perusahaan. Sekali lagi Alhamdulillah, saya diterima di salah satu perusahaan Jepang. Bersama 6 orang lainnya, kami berangkat dari Semarang menuju ibu kota Jakarta dengan kereta api. Ngomong-ngomong, tiket dan akomodasi kami selama seminggu ditanggung oleh perusahaan tersebut loh. Selama seminggu pertama saat masa orientasi, kami disewakan kamar hotel di daerah Bekasi. 😎

Setelah melalui perburuan beberapa hari, dan sempat diwarnai kejadian tersesat di daerah Cibitung, akhirnya saya memilih untuk menyewa kos di daerah Bekasi Barat. Karena selain strategis, saya juga merasakan chemistry yang berbeda ketimbang di daerah Cibitung, Tambun, maupun di Bekasi Timur. Hampir 3 tahun saya hidup di Bekasi Barat. Di sana juga banyak cerita dan kenangan yang telah terukir. Selama di sana, setelah bekerja selama 1 tahun, akhirnya saya mulai berpikir untuk mencari tempat tinggal yang permanen. Bagi saya pribadi, saya harus memiliki rumah sendiri meskipun itu sederhana ketika saya memutuskan untuk melamar atau meminang seseorang. Saya pun memilih membeli rumah di Cikarang. Karena menurut saya, akses menuju ke sana lebih mudah ketimbang daerah Tambun ataupun Cibitung. Namun sekali lagi ini adalah soal selera dan terkait dengan kemampuan finasial saya saat itu. Jika Anda memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda, itu sah-sah saja kok. 😉

Setelah 5 tahun bekerja di perusahaan tersebut, akhirnya saya menentukan pilihan kembali. Saya memilih untuk mencari pekerjaan lain yang sesuai dengan background pendidikan saya. Akhirnya saya pun diterima di pekerjaan saya yang sekarang. Dan ketika saya diterima, maka saya pun sudah berkomitmen untuk mempersembahkan yang terbaik yang saya bisa, karena inilah yang saya inginkan. Apapun resiko dan konsekuensi yang harus ditanggung, Insya Allah saya siap. 🙂

Memang dalam menjalani hidup, terkadang kita senantiasa melihat rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput sendiri. Ketika kita sudah memilih sesuatu, boleh jadi kita menganggap pilihan kita kurang tepat dan menganggap pilihan orang lain lebih baik buat kita. Padahal yang demikian itu belum tentu benar adanya. Selain itu, ketika dulu kita memiliki kesempatan untuk memilih menjadi dia, mengapa tidak kita pilih, dan justru memilih menjadi kita seperti yang sekarang ini? Jadi jangan pernah menyesali apapun pilihan yang sudah kita ambil dalam hidup ini. Karena di balik itu semua, pilihan apapun yang telah maupun yang akan kita ambil, sudah tertulis di lauh mahfuz dan sudah menjadi keputusan Sang Pencipta terhadap kita, makhluk ciptaan-Nya.

Apapun pilihan kita, sudah sepatutnya kita serahkan sepenuhnya kepada Sang Khalik, dan senantiasa mensyukuri apa yang sudah diberikan oleh-Nya.

Note:

  • Life is about choice. We can choose anything in our life, but we can’t choose our destiny. Do your best, and let God do the rest. :mrgreen:
  • When we can choose to be someone else, but didn’t do it, because there’s Something that caring us more than we know for some reasons.

Salam.

 

Author: Tatang Tox

Hanya manusia biasa / kawulo alit yang senang menulis dan fotografi.

6 thoughts on “Life Is About Choice”

  1. pertama baca langsung berasa jleb, lalu pergi tanpa meninggalkan jejak.
    sekarang kembali dan harus setuju that life is about choice and you should take whatever your destiny is.

Leave a Reply