Mudik Asik Dengan Motor Matik

Ternyata mudik dengan motor matik itu asik juga. Tidak kalah asiknya dengan motor kopling. Pada mudik sesi kedua ini saya memilih menggunakan Honda New Vario 125 ESP ISS. (gaya euy memilih, padahal mah memang cuma punya itu. 😆 )

Vario 125 ESP ISS
Si Merah siap diajak touring

Pada libur lebaran kemarin sebenarnya saya sekeluarga sudah melakukan mudik. Namun karena ada sesuatu dan lain hal, akhirnya saya harus pulang ke Lampung lagi seorang diri.

Nah, kali ini ijinkan saya ngobrol, eh nulis ngalor ngidul tentang perjalanan saya kemarin. Kalo ada yang kurang sreg, silahkan skip saja. :mrgreen:

Saya memutuskan untuk pulang dengan mengendarai motor karena ternyata tidak ada jadwal bus Damri yang ke Metro untuk pagi hari. Selain itu, karena saya membutuhkan kendaraan untuk mobilitas di Metro.

Sebenarnya agak lama juga saya menimbang-nimbang sebelum akhirnya saya putuskan untuk mudik naik motor. Dengan berbekal keinginan kuat untuk menjajal Jalur Mudik ke Sumatera dan sedikit kenekatan, jadilah saya mudik ke Metro dengan mengendarai motor.

Usia motor Vario saya baru sekitar 10 bulan dan biasanya hanya saya gunakan untuk jarak pendek saja, dari rumah ke stasiun Lemahabang. Paling jauh saya bawa ke kantor di kawasan Jakarta Pusat. Sejauh ini tidak ada keluhan terhadap motor tersebut. Boleh dibilang saya cukup puas dengan performa motor tersebut. Oleh karena itu, saya pikir ini saatnya untuk menguji ketahanannya apabila dipakai jarak jauh.

Perjalanan menuju Metro

Saya berangkat dari rumah hari Minggu pagi setelah subuh. Saya memulai perjalanan sekitar jam 5 pagi. Saya mengambil rute lewat jalur pantura biasa sampai dengan Bekasi Barat, kemudian dilanjutkan dengan jalur Kalimalang sampai dengan Cawang. Selepas Cawang saya mengambil jalur lewat Gatot Subroto, menyusuri jalan di samping Jalan Tol Dalam Kota, sampai dengan Grogol. Setelah Grogol, saya masuk ke jalan Daan Mogot sampai dengan Tangerang.

Di Tangerang, saya sempat tersesat. Saya kesasar ke arah Serpong dan Pamulang. Waktu yang terbuang sia-sia lumayan juga. Sekitar 1 jam baru saya menyadari kalau ternyata salah mengambil jalan. Akhirnya saya berhenti sejenak, lalu saya cek Google Maps. Sebagai catatan, dari rumah sampai Tangerang, saya tidak menggunakan apps sama sekali. Saya hanya mengandalkan rambu dan papan penunjuk jalan saja. 😎

Setelah akhirnya memutar balik, saya kemudian kembali ke jalan yang benar. :mrgreen: Lepas dari Tangerang, kemudian mulai masuk ke Cikokol, hingga akhirnya sampai di Serang. Sampai di Serang, saya istirahat sejenak sembari mengisi bahan bakar.

Setelah Serang, melintasi Cilegon dan akhirnya sampailah saya di Merak. Begitu sampai di pelabuhan Merak, saya langsung diarahkan menuju loket. Antrian kendaraan pun sudah tidak ada lagi. Pelataran parkir pun tampak sepi, sangat kontras dengan ketika saya mudik waktu lebaran kemarin. Jadi total perjalanan dari Cikarang sampai dengan Merak saya tempuh dalam waktu sekitar 5 jam. Style santai dan tidak ngoyo.

Pelataran Parkir Pelabuhan Merak
Pelataran parkir pelabuhan Merak yang sudah tampak lengang

Begitu mendapatkan tiket, saya pun langsung diarahkan untuk menuju kapal. Alhamdulillah, saya mendapat lokasi di deck atas. Setelah memarkir motor, kemudian segera mencari Ruangan AC di deck yang paling tinggi. Sekali lagi, kapal ini pun tampak sepi. Tidak banyak penumpang di dalam kapal. Ruangan AC yang biasanya penuh, ini cukup longgar. Setelah menemukan lokasi yang nyaman, saya pun segera meluruskan punggung. Me-recharge energi untuk perjalanan berikutnya.

Antrian kendaraan masuk ke kapal
Antrian kendaraan masuk ke kapal
Suasana di dalam kapal
Suasana di dalam kapal
Si Vario Merah 125 ESP ISS
Si Merah sudah parkir rapi jali di tepi deck

Kapal sandar di dermaga pelabuhan Bakauheni setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam. Saya pun bergegas menuju lokasi parkiran motor, menunggu antrian untuk turun dari kapal. Begitu ban motor mencium aspal, langsung tarik gas dan menuju jalur lintas Sumatera. Begitu keluar dari pelabuhan, kita sudah bisa melihat calon Jalan Tol  Lintas Sumatera. Namun memang saat ini belum dioperasikan, karena masih dalam tahap penyelesaian.

Menara Siger
Menara Siger di Gerbang Pulau Sumatera

Secara umum, jalan lintas Sumatera yang melewati Kalianda, Tarahan, Panjang, sampai dengan Bandar Lampung, sudah baik. Pada beberapa titik ada yang sudah dicor, sehingga agak kurang nyaman jika kita berkendara terlalu cepat, karena getarannya sangat terasa sekali. Sedangkan pada bagian yang lain ada beberapa aspal yang bergelombang, umumnya karena terdesak oleh truk-truk yang bermuatan berat. Jadi, saran saya, tidak perlu ngebut. Cukup berkendara dengan kecepatan normal saja, sekitar 60-80 km/jam. Sehingga masih terasa nyaman dan aman.

Sepanjang perjalanan dari Bakauheni menuju Metro, saya sempat berhenti dan beristirahat 2 kali. Yang pertama karena tiba-tiba hujan menghadang, sehingga mau tidak mau harus menepi dan memakai jas hujan. Sedangkan yang kedua, ketika hujan sudah reda dan harus mengisi bahan bakar. Total waktu yang saya tempuh dari Bakauheni sampai Metro adalah sekitar 3 jam.

Di Metro saya hanya tinggal sehari saja, karena ada urusan yang cukup mendesak. Di hari berikutnya saya menempuh perjalanan pulang ke Cikarang.

Insiden Sol Sepatu Lepas

Seperti saat berangkat, saya memilih untuk memulai perjalanan pada pagi dini hari. Namun sayangnya, baru menempuh beberapa kilometer, ternyata sol sepatu kanan saya lepas. 😆 Di sepanjang jalan saya tengok kanan kiri belum ada toko yang buka, karena memang masih pagi buta. Akhirnya saya nekat untuk tetap berjalan, sembari melihat-lihat kalau ada toko atau warung yang buka.

Tanpa terasa, saya sampai di daerah Kalianda masih dengan sepatu yang solnya lepas tersebut. Akhirnya ketika ada Indomaret, saya putuskan untuk berhenti dulu sekaligus beristirahat. Setelah membeli lem aica, saya duduk-duduk terlebih dahulu sambil mereparasi sepatu saya. Ketika saya periksa, ternyata yang sebelah kiri, solnya juga sudah mau lepas. 😆

Akhirnya saya lepas sekalian dan saya lem ulang. Sembari menunggu lem kering, saya duduk dan berbincang-bincang dengan tukang parkir yang ada di situ.

Setelah urusan sepatu beres, kemudian saya melanjutkan perjalanan. Waktu yang ditempuh kurang lebih sama dengan saat berangkat. Sekitar 3 jam, masih dengan style santai yang penting aman dan nyaman.

Sampai di Bakauheni, langsung membeli tiket kapal dan langsung masuk ke kapal. Suasana juga masih sepi persis ketika berangkat.  Di dalam kapal juga tidak terlalu ramai. Yang menarik adalah di kapal tersebut tersedia ruangan ber-AC yang gratis, jadi kita tidak perlu membayar lagi untuk naik kelas. Setelah memilih posisi yang nyaman, saya pun langsung terlelap.

Biker and motorcycle
Narsis sebelum turun dari kapal

Perjalanan Merak – Cikarang

Dari Cilegon sampai dengan Serang, lalu lintas masih relatif lancar. Namun begitu masuk ke Jalan Daan Mogot, segera disambut dengan kemacetan yang cukup parah. Untung saya membawa motor matik, jadi tinggal gas-rem saja. Kalau saya membawa motor kopling, haduuuhh… gak kebayang pegelnya. 😥

Setelah Daan Mogot masuk ke Grogol Slipi dan melanjutkan ke Jalan Gatot Subroto, lalu lintas ramelan alias rame lancar. :mrgreen: Meskipun kecepatan rata-rata hanya sekitar 40-60 km/jam, rasanya lumayan untuk jam-jam sibuk seperti itu.

Dari Kalimalang sampai dengan Bekasi Barat, merupakan perjalanan yang cukup menguras tenaga, karena macetnya luar biasa. Tapi yang namanya motor, ya masih bisa lah selip kanan kiri. :mrgreen: Sementara itu, dari Bekasi Barat sampai dengan Cibitung, relatif lancar. Agak tersendat ketika melewati lampu lalu lintas saja.

Dari Cibitung, saya memilih untuk mengambil jalur biasa (bukan Kalimalang), karena saya pikir, sore hari seperti itu, adalah jam pulang kerja para karyawan. Jadi biasanya jalur Kalimalang akan dipadati motor dan bus-bus jemputan.

Pilihan saya tepat, karena jalur biasa cukup lancar, tidak menemui kendala yang berarti. Saat adzan maghrib berkumandang, saya sudah sampai di rumah. 😎

Sampai di rumah terpaksa harus dilanjutkan dengan bersih-bersih rumah, karena istri dan anak-anak masih liburan di kampung halaman. :'(

Namun yang terpenting adalah, saya tidur sangat nyenyak malam itu. 😆

Yah, demikian sekelumit cerita pengalaman mudik asik dengan motor matik. Tapi saya sarankan, jangan mudik naik motor bila harus membawa keluarga, apalagi anak-anak yang masih balita. Bukan apa-apa, ini demi keselamatan dan kesehatan buah hati kita. Jangan sampai hanya demi menghemat rupiah kita harus menanggung resiko yang tidak pernah kita inginkan.

Jika ingin melihat koleksi foto-foto saya ketika mudik, silahkan kunjungi photoblog saya di cagakurip.blogspot.com/

Author: Tatang Tox

Hanya manusia biasa / kawulo alit yang senang menulis dan fotografi.

Leave a Reply