Mudik Guyub Rukun

Mudik Guyub Rukun merupakan tagline yang digaungkan pemerintah untuk menyambut musim mudik tahun 2017 ini. Segenap pihak bahu membahu demi menyukseskan mudik kali ini. Diharapkan dengan tagline tersebut, tumbuh rasa persaudaraan di antara pemudik sehingga mudik dapat berlangsung dengan lancar, aman, tertib, dan selamat sampai tujuan. 

Mudik Motor
Mudik Motor

Mudik seolah sudah menjadi semacam tradisi bagi bangsa Indonesia. Jutaan orang dari berbagai daerah di tanah air berbondong-bondong melakukan eksodus menuju kampung halaman masing-masing. Jalan-jalan lintas propinsi, terminal, pelabuhan, stasiun, dan bandara dipadati oleh lautan manusia.

Fenomena mudik ini terjadi setiap tahunnya menjelang hari raya Idul Fitri atau lebaran. Mudik tidak pandang bulu, baik itu dari golongan bawah, menengah maupun atas. Yang berbeda adalah bagaimana cara mereka menempuh perjalanan.

Ada yang mudik menggunakan kendaraan roda 2, kendaraan umum seperti bus, kendaraan pribadi, maupun pesawat. Tujuannya hanya satu, yaitu pulang ke kampung halaman masing-masing.

Apakah kita harus mudik?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, tentu kita harus memahami dulu kultur orang Indonesia. Ada pepatah Jawa yang mengatakan, “Mangan ora mangan sing penting kumpul (artinya: makan atau tidak makan yang penting berkumpul / bersama). Bisa jadi, hal inilah yang menjadi salah satu sebab mengapa setiap hari raya Idul Fitri hampir sebagian besar orang Indonesia melakukan mudik.

Selain itu, adanya cuti bersama yang cukup panjang pada saat hari raya Idul Fitri juga menjadi alasan tersendiri bagi orang-orang yang bekerja di kantor untuk memanfaatkan waktu libur tersebut dengan sebaik-baiknya. Kapan lagi bisa menikmati hari libur yang cukup panjang di luar weekend dan sejenak terlepas dari rutinitas yang biasa membelenggu.

Sebagian besar dari penduduk Indonesia merupakan perantau yang mencari kerja jauh dari kampung halaman dan orang tua mereka. Yang namanya orang tua, meskipun tidak diucapkan tentunya sangat berharap anak-anak beserta cucu (bila ada) dapat berkumpul bersama mereka pada saat hari raya tersebut. Setelah setahun lamanya (bahkan mungkin lebih) harus berpisah karena tuntutan profesi sang anak, rasanya hari raya merupakan momen yang paling tepat untuk menumpahkan kerinduan yang selama ini terpendam. Kerinduan yang tidak hanya dimiliki oleh para orang tua, namun juga oleh sang anak. Betapa bahagianya dapat berkumpul dengan orang yang kita sayangi, yang telah mengasuh dan membesarkan kita hingga seperti sekarang ini.

Memang ada sebagian dari teman-teman yang berpendapat bahwa mudik tidak harus di saat lebaran. Mudik bisa dilakukan kapan saja, mungkin dengan mengambil cuti di waktu yang lain. Menurut mereka, jika mudik dilakukan pada saat menjelang lebaran akan mengganggu konsentrasi ibadah puasa kita. Ya kalau menurut saya sih, boleh-boleh saja memiliki pendapat demikian, dan memang ada benarnya. Namun, sayangnya tidak semua orang memiliki pekerjaan yang memiliki fleksibilitas  dalam hal mengambil hak cuti mereka. Kalau menurut saya pribadi, mengunjungi orang tua, menyenangkan hati mereka, serta menjalin tali silaturahim antar saudara merupakan hal yang baik dan layak untuk diperjuangkan.

Jadi, sebenarnya tidak ada yang mengharuskan kita untuk mudik setiap tahunnya.  Bagi saudara-saudara kita yang melakukan mudik, adalah semata-mata untuk melepaskan kerinduan baik itu kepada orang tua maupun kampung halaman. Dan mudik juga tidak harus dilakukan pada saat menjelang hari raya Idul Fitri. Mudik dapat dilakukan kapan saja asal pas waktu dan biayanya.

Alternatif yang lain adalah dengan memboyong orang tua ke tempat kita. Selain memberikan nuansa dan suasana baru, juga menjadi solusi ketika kita enggan berjibaku dengan kemacetan. Karena dengan melawan arah, biasanya arus lalu lintas akan lebih longgar.

Saya sendiri sudah pernah merasakan semuanya. Dari mudik dengan bermacet-macet ria, tidak mudik sama sekali, sampai dengan memboyong orang tua ke tempat tinggal saya ketika lebaran. Masing-masing memiliki cerita dan keunikan tersendiri. 

Persiapan Mudik

Agar mudik kita dapat berlangsung dengan aman, selamat, dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

1. Pastikan kondisi rumah ditinggalkan dalam kondisi aman dan selamat

Sebelum berangkat, lakukan final check terhadap kondisi rumah. Cabut semua steker perangkat elektronik dari stop kontak. Matikan semua saklar, nyalakan lampu yang diperlukan saja, misalnya; lampu jalan atau lampu teras.

Jangan lupa pula untuk melepas regulator tabung gas demi keselamatan. Matikan semua keran air dengan rapat dan pastikan tidak terjadi kebocoran.

Kunci atau gembok pagar dengan rapat serta informasikan kepada pengurus RT / RW, maupun perangkat keamanan lingkungan tentang jadwal keberangkatan dan kepulangan kita. Hal ini untuk mengantisipasi sekiranya ada orang mencurigakan yang berkeliaran di sekitar rumah atau lingkungan kita pada saat para penghuninya pergi.

2. Siapkan Tiket dan Surat Penting Kendaraan Bermotor

Jika mudik menggunakan kendaraan umum, maka pastikan tiket sudah disiapkan. Jangan sampai terselip atau ketelingsut. Bila perlu simpan di dalam sebuah tas khusus untuk dokumen perjalanan.

Untuk yang mudik menggunakan kendaraan pribadi, maka siapkan pula surat terkait kendaraan bermotor Anda, seperti STNK dan SIM. Jangan sampai tertinggal.

3. Cek kondisi kendaraan bagi pengguna kendaraan pribadi

Jauh-jauh hari sebelum keberangkatan, lakukan cek dan tune up kendaraan yang akan dipakai untuk mudik. Pastikan kendaraan dalam kondisi fit pada saat digunakan. Sebelum keberangkatan, cek kondisi rem, tekanan ban, level oli mesin, air radiator, dan tidak lupa perlengkapan maintenance standar untuk penggantian ban. Sebagai kelengkapan, pastikan di dalam mobil juga terdapat kotak P3K.

Bagi yang menggunakan motor, jangan melakukan modifikasi yang terlalu ekstrim, seperti menambahkan kayu atau bambu untuk meletakkan tas, sehingga motor akan menjadi lebih panjang. Hal ini tidak disarankan karena akan mengurangi aspek aerodinamis dan mengganggu keseimbangan serta dapat membahayakan pengguna motor lainnya.

Jangan lupa menggunakan perlengkapan safety yang layak. Gunakan helm standar atau bila perlu pakailah yang full face. Gunakan masker karena polusi yang akan dihadapi sungguh luar biasa. Jangan lupa menggunakan jaket yang agak tebal untuk menahan angin. Pilihlah alas kaki yang menutup kaki dengan sempurna dan jangan memakai sandal.

Demi faktor keselamatan, ada baiknya dihindari untuk membawa balita dan anak-anak dengan menggunakan motor. Mengingat potensi resiko yang mengancam tidak sebanding dengan hematnya uang yang dikeluarkan. Bila perlu, untuk menghemat anggaran, sang ibu dan anak dipulangkan jauh-jauh hari sebelum lebaran agar tidak terkena biaya tuslah tiket lebaran.

4. Siapkan uang dan bekal makanan minuman secukupnya

Baik menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum, uang dan bekal merupakan hal yang wajib dibawa. Sebab, selama perjalanan menuju kampung halaman, tidak selalu ada mesin ATM dan tidak semua toko bisa dibayar dengan kartu debit atau kartu kredit sehingga membawa uang tunai yang cukup adalah sebuah keharusan. Tidak perlu berlebihan, sebaiknya sebelum mudik, lakukan perhitungan kisaran uang yang dibutuhkan selama di perjalanan. Buatlah perhitungan secara terperinci agar terlihat kisaran biaya yang diperlukan. Hitunglah mulai dari pengeluaran yang besar sampai yang terkecil sekalipun seperti biaya parkir dan biaya buang air di WC umum.

Dalam mudik, kemacetan merupakan hal yang sering terjadi. Oleh karena itu, hal penting berikutnya adalah membawa persediaan makanan dan minuman yang cukup. Saat berkendara di tengah kemacetan yang membuat stress, Anda bisa berpotensi lapar dan haus, bahkan hal ini bisa menyebabkan kehilangan konsentrasi saat menyetir. Hindarilah mengendarai kendaraan jarak jauh dalam kondisi lapar, sebaiknya makan terlebih dahulu lalu melanjutkan kembali perjalanan. Oleh sebab itu, penting untuk menyediakan makanan ringan seperti buah-buahan, roti, atau snack favorit saat mudik apalagi bila menggunakan kendaraan pribadi.

5. Utamakan keselamatan dan jaga kondisi badan

Perjalanan yang ditempuh saat mudik bukan merupakan hal yang mudah dan cukup melelahkan baik tenaga maupun pikiran. Oleh karena itu, kita harus mampu untuk mengukur kondisi tubuh kita, terutama bagi yang menggunakan kendaraan pribadi. Apabila kita sudah merasa mengantuk, sebaiknya mencari tempat yang sesuai dan segera menepi.

Mengantuk merupakan hal yang tidak bisa dianggap sepele. Ketika kita sudah merasa sangat lelah dan mengantuk, maka ada yang namanya microsleep. Ya, tubuh mempunyai mekanisme untuk melakukan semacam shutdown ketika kondisi sudah sangat drop. Microsleep bisa berlangsung selama beberapa detik. Namun beberapa detik ini bisa berakibat fatal. Karena hanya dalam beberapa detik, kendaraan akan melaju tanpa ada kendali dari Anda. Hanya dalam 1 detik, kendaraan akan meluncur liar tanpa kendali sejauh 100 meter. Bisa dibayangkan bukan, betapa berbahayanya? Oleh karena itu, jangan memaksakan diri. Beristirahatlah ketika kondisi badan sudah menurun. Tidur sebentar selama kurang lebih 10 menit, akan kembali menyegarkan tubuh.

Demi keselamatan, patuhilah rambu-rambu lalu lintas dan ikuti petunjuk yang ada. Tidak perlu mengebut atau selap-selip kiri-kanan, terobos rambu lalu lintas, yang nantinya bisa berujung kecelakaan di jalan yang merugikan keselamatan Anda dan keluarga.

Demikian sedikit sharing dari saya mengenai mudik di tahun 2017 ini. Mudah-mudahan bisa bermanfaat dan membantu. Akhirnya saya ucapkan, “Selamat mudik dan bertemu dengan keluarga di kampung halaman. Hati-hati dan bijak di perjalanan agar selamat sampai di tujuan.”

Dan di hari yang fitri, saya ucapkan,”Selamat Hari Raya Idul Fitri, Taqaballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, mohon maaf lahir dan batin.”

Author: Tatang Tox

Hanya manusia biasa / kawulo alit yang senang menulis dan fotografi.

Leave a Reply