Sudah Hari Rabu Atau Baru Hari Rabu?

Kalau berbicara hari Senin, tentu kita semua sudah mengenal slogan “I hate Monday“. Karena berarti kita harus bersiap bergulat dengan segala rutinitas dan aktivitas. Sedangkan ketika hari Jumat, kita biasa mengatakan “Semangat Jumat”. Karena ia berada di penghujung minggu yang berarti akan segera datang akhir pekan. Waktu di mana kita bisa melepas penat dan meletakkan segala beban pekerjaan.

Hari Rabu sebenarnya sama dengan hari-hari yang lainnya. Ada hal yang membuatnya sedikit istimewa, yaitu dia berada di tengah-tengah hari kerja dalam satu minggu. Dan yang menarik adalah cara seseorang memandang si hari Rabu ini. Ada sebuah penelitian membuktikan bahwa pada hari Rabu banyak orang yang melakukan update status melalui akun jejaring sosial mereka. ­čś»

Kecenderungan ini mungkin terjadi karena hari Rabu merupakan┬ápeak season┬ádalam satu minggu kita bekerja. Sehingga kita melampiaskan kepenatan dan tekanan kita dengan melakukan┬áupdate status┬ádi berbagai situs jejaring sosial. (Waduh, saya ini sebenarnya mau nulis tentang apa ya? Kok kayanya jadi┬ángelantur┬ábegini ­čś│ )

Apa yang ingin saya garis bawahi di sini sebenarnya adalah masalah sudut pandang, perspektif, atau┬ápoint of view.┬áDengan sudut pandang yang berbeda, maka akan dapat menimbulkan reaksi yang berbeda pula. Coba perhatikan kalimat, “Ini baru hari Rabu, ya?”. Maka selanjutnya kita akan melewati hari-hari dengan terasa berat dan lama. Rasa-rasanya kok akhir pekan masih lama, dsb. ­čśą

Tapi ketika kita berkata, “Wah, sudah hari Rabu, ya?”. Maka kita akan merasa bahwa waktu berjalan begitu cepat, sehingga tidak terasa kita akan segera bertemu dengan akhir pekan lagi. :mrgreen:

Begitulah sebuah sudut pandang atau perspektif. Tanpa disadari ia memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan kita. Perbedaan sudut pandang tak urung juga dapat memicu terjadinya perselisihan atau perbedaan pendapat. Seperti kisah tiga orang buta yang diminta untuk menggambarkan gajah itu seperti apa. Orang buta pertama memegang belalai gajah, maka dia dengan percaya diri mengatakan bahwa gajah itu bentuknya seperti ular panjang yang gemuk. Sedangkan orang kedua, memegang telinga gajah. Maka dia dengan lantang mengatakan bahwa gajah itu seperti ikan pari, bentuknya tipis dan lentur. Sedangkan orang ketiga memegang perutnya. Maka dia dengan yakinnya kalau gajah itu seperti sapi namun memiliki kulit yang lebih kasar.

Nah, dari ilustrasi di atas, kita dapat melihat bahwa sebuah objek atau benda jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda akan dapat memberikan refleksi yang berbeda. Demikian pula dengan banyak hal yang terjadi dalam kehidupan kita. Pemahaman kita terhadap suatu hal belum tentu sama dengan orang lain, bahkan kadang bisa berseberangan. Di sinilah diperlukan kearifan kita untuk mencoba melihat dari sudut pandang orang lain. Melihat dari sudut pandang orang lain belum tentu kita harus mengikuti orang tersebut. Namun dengan mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda, maka kita akan menjadi lebih bijak dalam menyikapi sesuatu.

Seperti halnya yang terjadi akhir-akhir ini, antara negara kita dengan negara tetangga. Tetangga kita yang satu ini merasa keberatan, ketika nama dua pahlawan kita diabadikan menjadi nama kapal tempur berjenis frigate. Mereka beranggapan bahwa kedua orang tersebut adalah teroris karena telah menyebabkan tewasnya tiga orang warga sipil. Memberi nama kapal dengan nama mereka hanya akan membuka kembali luka lama yang sudah terpendam. Di sini nyata sekali dua sudut pandang yang saling berseberangan. Di sisi kita, mereka adalah pahlawan karena tewas dalam mengemban tugas terlepas dari apa yang telah mereka lakukan. Mereka adalah martir dari konsekuensi kebijakan yang diambil oleh pimpinan tertinggi kita pada waktu itu. Sedangkan di mata tetangga, mereka tidak lebih dari kriminal yang menyebarkan teror dan mengakibatkan tewasnya penduduk sipil.

Di sinilah diperlukan kearifan dari kedua belah pihak. Alangkah lebih baiknya jika masing-masing pihak mencoba melihat dari sudut pandang atau perspektif yang berbeda. Hendaknya tetangga kita menyadari bahwa kedua orang tersebut hanyalah prajurit yang sedang melaksanakan perintah dari atasannya. Selain itu, pada masa tersebut kondisi geopolitik masih dalam suasana kacau akibat akan didirikannya sebuah negara federasi, yang menurut pemimpin kita pada waktu itu merupakan bentuk baru dari kolonialisme. Sedangkan kita pun hendaknya menyadari, bahwa tentunya berat ketika seseorang yang menyebarkan teror ternyata dianggap seorang pahlawan. Oleh karenanya tidak sepatutnya pula kita melemparkan statement-statement yang justru akan membuka luka lama ternganga kembali.

Sebaiknya kita rapatkan barisan karena jalan terjal di depan masih panjang. Janganlah kita terjebak masa lalu, biarlah sejarah menjadi pelajaran, sekelam apa pun itu. Dengan mempelajari sejarah, hendaknya akan membuat kita supaya tidak terperosok ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Mari kita kedepankan rasa saling menghormati, menghargai, dan tenggang rasa. Kita pupuk kembali rasa memiliki bangsa ini. Bangsa kita adalah bangsa yang besar, dan membutuhkan orang-orang berjiwa besar untuk membuatnya tetap besar. Kita kesampingkan dahulu perbedaan yang ada, mari bersatu padu menuju Indonesia yang lebih maju dan bermartabat, gemah ripah loh jinawi. (Ini tadi awalnya saya menulis tentang hari Rabu, tapi kok bisa sampai sini ya? :mrgreen: )

Salam.

 

Author: Tatang Tox

Hanya manusia biasa / kawulo alit yang senang menulis dan fotografi.

2 thoughts on “Sudah Hari Rabu Atau Baru Hari Rabu?”

  1. Iya pernah denger kisah 3 orang buta itu… Tapi kayaknya orang ketiga pegang buntut gajah deh… jadinya bilang gajah itu berbulu xD

    setuju ama pendapat diatas… Memang segala sesuatu itu tergantung dari mana sudut pandang kita menilai… Semacam istilah mulutmu harimaumu… kalau mulut berbicara baik niscaya yg diperoleh juga baik, tapi kalau buruk ya yg diperoleh mungkin jg akan buruk ^^

    Anyway liat sisi kanan widgets tnyata blogger asal bekasi juga toh? Wah salam kenal… ­čśÇ

    1. Oh iya ya, yang satunya pegang ekor… Haha.. soalnya cerita itu sudah lama dan tiba-tiba terlintas begitu saja… Terima kasih atas koreksinya ­čś│

      Wah senangnya bisa bertemu sesama warga Bekasi, meskipun hanya di dunia maya dan lokasinya sesungguhnya berjauhan. BTW, Bekasinya di mana?

Leave a Reply