7 Fakta Unik dan Menarik Sepanjang Mudik 2017

Mudik tentunya akan menyisakan berbagai macam cerita baik suka maupun duka. Lantas, bagaimana suasana mudik yang Anda alami pada tahun 2017 ini? Adakah cerita menarik yang dapat dibagi di sini? :mrgreen:

Antrian Menuju Pelabuhan Merak
Antrian Menuju Pelabuhan Merak

Bagi saya pribadi, mudik tahun ini terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Well, itu terjadi karena sudah 4 kali lebaran saya tidak melakukan mudik baik ke kampung halaman saya, maupun istri. Di samping itu, mudik tahun ini merupakan mudik tersingkat yang pernah saya alami. Saya sudah kembali dari kampung halaman pada saat lebaran H+4.

Namun dari pengamatan yang saya lakukan baik via media cetak maupun online, rasanya tidak berlebihan jika mudik kali ini cukup berbeda dari mudik tahun-tahun sebelumnya. Nah, kira-kira apa sajakah fakta unik yang terjadi pada mudik tahun ini? Mari kita simak satu persatu.

1. Libur cuti bersama yang berubah-ubah

Continue reading “7 Fakta Unik dan Menarik Sepanjang Mudik 2017”

Jakarta Banjir, Salah Siapa?

Beberapa hari ini, media massa baik cetak maupun elektronik memborbardir kita dengan berita mengenai banjir yang menggenangi Jakarta. Hampir semuanya membahas banjir yang terjadi tahun ini. Meskipun hujan yang turun belum selebat seperti tahun kemarin dan banjir tidak / belum sampai menggenangi Bundaran HI, namun pemberitaan di media massa sungguh massive, bahkan menenggelamkan berita tentang meletusnya Gunung Sinabung.

Banjir Jakarta
Banjir Jakarta

Banjir memang sudah menjadi PR bagi siapa pun yang memimpin Jakarta sejak bertahun-tahun yang lalu. Banjir juga menjadi semacam ikon yang melekat ke Jakarta. Dan, konon banjir juga sudah terjadi sejak masa pendudukan Belanda, yang pada saat itu namanya masih Batavia. Itulah mengapa banyak kita lihat kanal-kanal besar (namun banyak yang tidak berfungsi 😥 ) di Jakarta. Artinya, dari jaman dahulu Jakarta sudah menjadi daerah yang menjadi lintasan air kiriman dari Bogor. 😥

Alasan banjir yang terjadi tahun ini menjadi penghias di halaman-halaman media cetak dan elektronik adalah karena pengaruh embel-embel yang menyertainya. Apakah embel-embel itu? Yaitu Pak Gubernur dan Pak Wakil Gubernur yang eksepsional, unik, dan berbeda dari periode-periode sebelumnya. Background mereka yang berasal dari daerah dan partai yang berbeda, serta style kepemimpinan yang berbeda selalu menjadi buah bibir di media. Pak Joko Widodo (baca: Jokowi) dengan kesederhanaan dan kepolosannya yang selalu “blusukan” dari kampung ke kampung untuk menjaring apa yang menjadi kebutuhan rakyat, sedangkan Pak Basuki T. Purnama (baca: Ahok) dengan ketegasan dan keberaniannya merubah budaya kerja Pemda DKI seolah menjadi kombinasi yang unik, meskipun masih terlalu dini untuk mengatakan mereka adalah pasangan yang pas. 😳

Adanya dorongan dan dukungan yang kuat agar Pak Jokowi menjadi Capres di Pemilu 2014 juga menjadi salah satu sebab, mengapa banjir Jakarta menjadi barometer tingkat popularitas dan kesuksesannya dalam membenahi Jakarta. Di lain pihak, ada pihak-pihak yang memanfaatkan banjir ini sebagai alat untuk menjatuhkan popularitas Pak Jokowi yang melejit pada beberapa survey Capres tahun 2014. Inilah yang memprihatinkan. Bencana yang terjadi digunakan sebagai alat untuk melakukan manuver politik, bukannya bahu-membahu untuk mengatasinya secara bersama-sama. Dengan kata lain, Banjir yang dipolitisir. :mrgreen:

Terlepas dari semua masalah politik tersebut, banjir di Jakarta ini sudah seharusnya menjadi PR kita bersama. Banjir ini terjadi juga karena ulah kita yang masih belum begitu peduli terhadap lingkungan. Kalau kita tidak mau merubah pola hidup yang lebih ramah lingkungan, bukan hal yang mustahil jika kelak Jakarta akan tenggelam.

Continue reading “Jakarta Banjir, Salah Siapa?”