Fitur Enkripsi Pada Update WhatsApp Terbaru

Ada yang lain ketika saya membuka aplikasi WhatsApp pagi ini. Di bawah chat terakhir muncul tulisan “Messages you send to this chat and calls are now secured with end-to-end encryption. Tap for more info.”

WhatsApp
WhatsApp

Pagi ini memulai aktivitas seperti biasa. Saat bangun tidur, pada smartphone saya tampak notifikasi sudah sekitar 80 an lebih aplikasi yang minta di-update. Kemudian sambil lalu saya tekan “Update All”. ๐Ÿ˜†

Saya pun nyambi bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Sesampainya di kantor, ternyata seluruh update sudah selesai. Ketika saya membuka WhatsApp, ada yang lain. Di bawah chat terakhir muncul tulisan “Messages you send to this chat and calls are now secured with end-to-end encryption. Tap for more info.” ๐Ÿ˜ฏ

Saya cukup terkejut, karena selama ini yang saya tahu WhatsApp belum menyediakan fitur tersebut. Yang sudah memiliki fitur tersebut justru aplikasi messenger yang lain yaitu Telegram. Telegram bahkan memiliki fitur self-detruction, yaitu sebuah fitur yang mampu menghapus percakapan kita dalam waktu yang sudah ditentukan.

Karena didorong oleh rasa penasaran, akhirnya saya masuk ke Play Store lalu saya baca What’s New pada aplikasi WhatsApp tersebut. Ternyata benar, bahwa pada update terbaru ini WhatsApp sudah menerapkan teknologi end-to-end Encryption baik untuk chat maupun fitur call-nya.

Whats New on WhatsApp
Whats New on WhatsApp

Continue reading “Fitur Enkripsi Pada Update WhatsApp Terbaru”

Cari Kos-kosan Dengan Jarimu

Apakah Anda sedang mencari kos-kosan atau kamar sewa? Atau justru ingin menawarkan kamar kosong di rumahย Anda untuk disewakan? Lantas apa yang akan Anda lakukan? :mrgreen:

Judul di atas tentunya mengingatkan kita pada era 90-an di mana teknologi internet belum seperti sekarang. Dulu kita sering bergantung pada yang namanya Yellow Pages, sebuah ‘buku sakti’ yang biasa kita dapatkan dari Telkom. Tagline yang digunakan adalah “Cari tahu dengan jarimu” ๐Ÿ˜†

Tagline tersebut menurut saya masih sesuai dengan kondisi sekarang. Hanya saja bedanya adalah, jika dulu kita menggunakan jari untuk membuka halaman Yellow Pages dan menelusuri baris per baris, saat ini kita menggunakan jari kita untuk menggerakkan cursor pada layar komputer ataupun mengoperasikan smartphone.

Yup, semuanya kini serba berbasis internet. Dunia menjadi sebuah tempat yang tiada batas. Pada saat yang bersamaan kita dapat berinteraksi dengan saudara-saudara kita di belahan bumi yang lain, seolah kita sedang berada di tempat yang sama. Perkembangan internet benar-benar telah mengubah kebiasaan dan pola berinteraksi manusia.

Oke, kembali pada paragraf pertama di atas. Apa yang akan Anda lakukan jika ingin mencari kos-kosan atau kamar sewa? Biasanya kita akan berkeliling ke suatu daerah atau pemukiman, sambil melihat-lihat apakah ada tanda “Sedia Kamar Kos” di depan rumah atau tidak. Mendatangi satu per satu sambil melihat-lihat kondisinya, dan berpindah ke rumah yang lain jika memang dirasa belum cocok. Paling tidak itulah yang pernah saya lakukan. Maklum, saya ini kan termasuk generasi 90-an. :mrgreen:

Begitu pula bagi Anda yang memiliki kamar kosong yang ingin disewakan. Biasanya akan menempelkan kertas dengan tulisan “Sedia Kamar Kos” atau “Ada kamar kosong”. Yang lebih advance biasanya akan menempelkan di tiang-tiang listrik maupun menyebarkan pamflet di pusat-pusat keramaian. Betul kan? Hayo ngaku! ๐Ÿ˜†

Apakah dua hal di atas itu salah? Sama sekali tidak! Hanya saja sekarang ini sudah ada cara yang lebih mudah. Jadi bagaimana caranya?

Serumah dot Com
Serumah dot Com

Continue reading “Cari Kos-kosan Dengan Jarimu”

UBER-lah GOJEK, TAXI ku-GRAB

Kemarin atau tepatnya 22 Maret 2016, kita menjadi saksi betapa masyarakat dari kalangan menengah ke bawah harus berkonfrontasi dengan saudaranya sendiri demi mempertahankan apa yang sudah menjadi mata pencaharian mereka selama ini. Perseteruan antara moda transportasi umum konvensional dengan moda transportasi umum berbasis aplikasi akhirnya mencapai klimaksnya.

Gojek dan Blue Bird
Gojek dan Blue Bird

Sebelumnya, pada tanggal 14 Maret 2016, para pengemudi angkutan umum konvensional sudah menggelar demo meminta angkutan umum berbasis aplikasi supaya ditutup, dan perusahaan penyedia jasa aplikasi tersebut harus angkat kaki dari Indonesia. Mereka berpendapat bahwa sejak kemunculan angkutan umum berbasis aplikasi ini, menurunkan omset / pendapatan mereka. Karena pengguna kini lebih memilih angkutan umum yang berbasis aplikasi tersebut, sebut saja, GoJek, Uber, dan Grab.

Saya pun bukan tanpa alasan menulis judul di atas. Mengapa? Karena itulah aktor utama dalam kisah kesemrawutan masalah pengaturan transportasi umum di negeri kita ini. Merekalah yang saat ini menjadi sorotan dan terlibat dalam persengketaan.

Bibit-bibit perseteruan itu memang sudah mulai tumbuh sejak kemunculan Gojek. Betapa para pengemudi Gojek sering mengalami intimidasi dan tidak jarang penganiayaan dari para pengemudi ojek konvensional. Masalah pun kian meruncing ketika muncul aplikasi Uber dan Grab. Karena yang terusik bukan hanya ojek, melainkan angkutan umum roda 4 termasuk Taxi, Mikrolet, Angkot, Bajaj, dsb.

Isu yang selalu diangkat adalah bahwa sejak kemunculan angkutan berbasis aplikasi ini menurunkan omset mereka. Pendapatan mereka berkurang sementara banyak perut yang harus diisi di rumah. Oke, tapi apakah para pengemudi Gojek, Uber, dan Grab juga tidak memiliki keluarga yang harus diberi makan? Apakah hanya pengemudi angkutan umum konvensional saja yang keluarganya harus diberi makan?

Terlepas dari permasalahan di atas, izinkan saya sekedar berbagi pengalaman selama hampir 3 tahun hidup di negeri tetangga, Singapura. Di sini, kami biasa menggunakan aplikasi Grab untuk mencari taxi. Selain lebih cepat, kita juga tidak harus berjalan ke pinggir jalan untuk mencegat taxi yang lewat. Melalui aplikasi tersebut kita dapat mengetahui taxi mana saja yang posisinya paling dekat dengan lokasi kita. Kita pun dapat memilih jenis taxi yang diinginkan, apakah reguler, premium, atau maxi-cab.

Dari yang saya amati, hampir semua pengemudi taxi di Singapura terdaftar di dalam aplikasi Grab ini, dan semuanya sudah familiar dengan penggunaan Smartphone. Maka ketika muncul aplikasi Grab ini juga tidak ada gejolak, justru mereka melihat ini sebagai sebuah tools yang mampu membantu dalam pekerjaan mereka.

Oh ya, selain Grab, di sini juga terdapat aplikasi Uber. Namun sekali lagi, tidak ada protes ataupun keributan dari para penyedia jasa transportasi di sini. Semuanya berjalan lancar, seolah masing-masing sudah punya pangsa pasar tersendiri.

Ketika saya mengamati apa yang terjadi di tanah air, ada beberapa hal yang menjadi catatan:

Continue reading “UBER-lah GOJEK, TAXI ku-GRAB”

Apakah Website / Blog Anda Mobile Friendly?

Smartphone
Smartphone

Smartphone atau ponsel pintar saat ini sudah bukan merupakan barang mewah lagi. Dengan berbagai pilihan model dan spesifikasi, kini hampir tiap orang dapat memilikinya. Melalui perangkat ini orang dapat melakukan apa saja, dari sekedar telepon dan SMS, main game, social media, bahkan sampai nge-blog pun bisa. :mrgreen:

Kehadiran smartphone memang telah menggeser tren yang sudah ada. Kalau dulu orang masih berorientasi kepada komputer desktop, kini trennya bergeser lebih ke arah mobile. Hal-hal yang dulu harus dilakukan di komputer kini dapat dilakukan oleh perangkat yang besarnya tidak lebih besar dari genggaman tangan kita.

Pada awalnya, website / blog hanya diakses melalui komputer desktop. Saya masih ingat ketika awal-awal nge-blog, saya bela-belain ke warnet untuk posting. :mrgreen: Sampai kemudian akhirnya saya bisa membeli komputer sendiri dan memakai modem broadband yang sinyalnya undlap-undlup seperti ingus. ๐Ÿ˜† Maklum, rumah saya kan bukan di tengah kota, melainkan di pinggiran.

Demi mengikuti perkembangan teknologi ponsel yang semakin dahsyat, akhirnya para penyedia platform blog juga berinovasi dengan membuat versi mobile-nya. Tujuannya agar saat user mengakses sebuah website atau blog melalui ponsel, prosesnya menjadi lebih cepat ketimbang membuka versi desktop-nya.

Pergeseran ini ternyata juga diamini oleh Google, mesin pencari terbesar di dunia saat ini. Google juga melakukan check and recheck terhadap sebuah situs, apakah dia mobile friendly (memiliki mobile version) atau tidak. Yang jelas, jika ada dua buah situs yang sama bagusnya, tapi yang satu memiliki mobile version sedangkan yang satunya lagi tidak, tentu Google akan lebih memprioritaskan yang memiliki mobile version-nya.

Nah, bagaimana caranya kita bisa mengetahui apakah website / blog kita mobile friendly atau tidak? Continue reading “Apakah Website / Blog Anda Mobile Friendly?”