Apa Itu Gurindam?

Tahukah Anda apa itu Gurindam? Atau lebih tepatnya, pernahkah Anda mendengar Gurindam Dua Belas?

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), gurindam /gu·rin·dam/ adalah sajak dua baris yg mengandung petuah atau nasihat (misal: baik-baik memilih kawan, salah-salah bisa jadi lawan).

Gurindam merupakan salah satu khazanah budaya bangsa Indonesia. Sekilas gurindam akan tampak serupa dengan pantun. Tapi jika diperhatikan secara lebih seksama, maka akan terlihat perbedaan antara gurindam dan pantun.

Gurindam termasuk puisi lama dari budaya Melayu yang terdiri atas dua baris dalam satu bait. Kalimat baris pertama menyatakan perbuatan dan kalimat baris kedua menyatakan akibat yang timbul dari perbuatan itu. Sedangkan pantun terdiri atas sampiran dan isi. Pada pantun, sampiran dan isi boleh jadi merupakan dua hal yang tidak ada hubungannya, kecuali memiliki rima atau sajak yang sama. Nah, kini sudah jelas bukan, perbedaan antara gurindam dan pantun?

Gurindam yang paling terkenal dalam karya sastra Indonesia lama adalah “Gurindam Dua Belas” karya Raja Ali Haji yang berasal dari Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Disebut “Gurindam Dua Belas” bukan berarti terdiri atas dua belas bait, melainkan gurindam yang berisi dua belas pasal. Gurindam Dua Belas berisi persoalan ibadah, tugas dan kewajiban raja, adab anak terhadap orang tua, tugas orang tua terhadap anak, dan sifat-sifat bermasyarakat yang baik.

Bagi yang ingin tahu versi lengkap Gurindam Dua Belas, mari kita simak di bawah ini:

Continue reading “Apa Itu Gurindam?”

Sudahlah, Kami Sudah Lelah

Proses Pemilihan Umum (Pemilu) kali ini terasa sangat berbeda dibanding Pemilu sebelumnya. Perbedaan yang dirasakan adalah tingkat antusiasme masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya. Pada saat Pemilu Legislatif memang masih belum begitu tampak, walaupun sudah mulai terlihat poros-poros yang bermunculan. Poros-poros ini kemudian mengerucut menjadi dua kutub/kubu besar yang saling berseberangan. Dan pada akhirnya Pemilu Presiden dan Wakil Presiden kali ini hanya memunculkan dua pasangan calon.

Begitu keran kampanye dibuka, byurrr!!! Semua informasi yang menyangkut visi, misi segera disosialisasikan oleh masing-masing kubu. Media sebagai ujung tombak dalam proses ini pun akhirnya terbelah menjadi dua. Ketika taipan-taipan media mulai merapat ke salah satu kandidat. Maka dimulailah yang namanya perang informasi. Profesionalisme dan kode etik jurnalistik dikesampingkan demi mendukung salah satu kandidat dan menjatuhkan yang lainnya. Bahkan ada media yang secara terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap salah satu kandidat. Hal semacam ini menurut hemat saya telah menodai apa yang dinamakan kode etik jurnalistik (meskipun saya sendiri kurang paham makanan seperti apakah itu, hanya saja kelihatannya enak, hehehe…).

Metode ini rupanya cukup efektif dalam membentuk opini publik, walaupun di era yang penuh keterbukaan seperti ini, hal tersebut sedikit sulit untuk dilakukan. Masyarakat dapat melakukan riset mandiri dengan mencoba membandingkan sebuah tema berita dari media satu dengan media yang lainnya. Walaupun secara manusiawi pada akhirnya masing-masing orang hanya membaca berita yang ingin mereka dengar.

Continue reading “Sudahlah, Kami Sudah Lelah”

Kesadaran Politik Masyarakat Kita

Dari blog lama sampai akhirnya pindah kemari, sebetulnya saya paling malas untuk membahas masalah politik. Karena bagi saya pribadi, berbicara masalah politik berarti kita berbicara mengenai sebuah ketidakpastian. Semuanya terasa abu-abu dan palsu. Saat ini bilang A, eh, ternyata besok sore sudah bilang Z. Jadi sering saya menggeneralisir bahwa dunia politik adalah dunia yang penuh kemunafikan. 😐

Lalu mengapa kali ini saya menulis hal yang berkaitan dengan politik? Berarti saya juga ikutan munafik dong? 😳 Tunggu dulu, apa yang akan saya tuliskan di sini bukan membahas mengenai hipotesa-hipotesa politik yang saat ini sedang berkembang di negara kita, melainkan lebih menyoroti kondisi sosial masyarakat kita dalam memandang politik itu sendiri. Saya ingin berbagi, sejauh mana masyarakat kita mengerti dan mengenal politik. Karena dengan mengetahui pemahaman masyarakat kita tentang politik, maka kita dapat mengukur kualitas bangsa kita secara general dibandingkan dengan negara lain.

Alasan saya menulis tema ini adalah berasal dari perbincangan dengan seorang teman dari Indonesia yang sudah beberapa tahun hidup di luar negeri, yaitu Singapura. Beliau mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2 di salah satu perguruan tinggi terkemuka di negeri Singa dan sampai saat ini bekerja di perguruan tinggi tersebut. Saat kami menjadi tim KPPSLN, kami sempat bertukar pikiran walaupun sedikit :mrgreen: ,  mengenai dinamika politik yang terjadi di Indonesia, khususnya terkait Pemilu.

Sebelum melangkah lebih jauh, perlu diketahui bahwa ada dua golongan di dalam masyarakat kita, yaitu yang terlibat langsung dalam kancah perpolitikan dan ada pula yang hanya menjadi pengamat saja. Yang terlibat langsung seperti misalnya caleg (calon anggota legislatif), pengurus ataupun anggota partai tertentu, dan simpatisan partai tertentu. Sedangkan kelompok yang lain adalah kelompok masyarakat secara umum, yang biasanya hanya menjadi pengamat bahkan terkadang cenderung apatis dengan masalah perpolitikan.

Masa Kampanye

Continue reading “Kesadaran Politik Masyarakat Kita”

Sudah Hari Rabu Atau Baru Hari Rabu?

Kalau berbicara hari Senin, tentu kita semua sudah mengenal slogan “I hate Monday“. Karena berarti kita harus bersiap bergulat dengan segala rutinitas dan aktivitas. Sedangkan ketika hari Jumat, kita biasa mengatakan “Semangat Jumat”. Karena ia berada di penghujung minggu yang berarti akan segera datang akhir pekan. Waktu di mana kita bisa melepas penat dan meletakkan segala beban pekerjaan.

Hari Rabu sebenarnya sama dengan hari-hari yang lainnya. Ada hal yang membuatnya sedikit istimewa, yaitu dia berada di tengah-tengah hari kerja dalam satu minggu. Dan yang menarik adalah cara seseorang memandang si hari Rabu ini. Ada sebuah penelitian membuktikan bahwa pada hari Rabu banyak orang yang melakukan update status melalui akun jejaring sosial mereka. 😯

Kecenderungan ini mungkin terjadi karena hari Rabu merupakan peak season dalam satu minggu kita bekerja. Sehingga kita melampiaskan kepenatan dan tekanan kita dengan melakukan update status di berbagai situs jejaring sosial. (Waduh, saya ini sebenarnya mau nulis tentang apa ya? Kok kayanya jadi ngelantur begini 😳 )

Apa yang ingin saya garis bawahi di sini sebenarnya adalah masalah sudut pandang, perspektif, atau point of view. Dengan sudut pandang yang berbeda, maka akan dapat menimbulkan reaksi yang berbeda pula. Coba perhatikan kalimat, “Ini baru hari Rabu, ya?”. Maka selanjutnya kita akan melewati hari-hari dengan terasa berat dan lama. Rasa-rasanya kok akhir pekan masih lama, dsb. 😥

Tapi ketika kita berkata, “Wah, sudah hari Rabu, ya?”. Maka kita akan merasa bahwa waktu berjalan begitu cepat, sehingga tidak terasa kita akan segera bertemu dengan akhir pekan lagi. :mrgreen:

Continue reading “Sudah Hari Rabu Atau Baru Hari Rabu?”

Jakarta Banjir, Salah Siapa?

Beberapa hari ini, media massa baik cetak maupun elektronik memborbardir kita dengan berita mengenai banjir yang menggenangi Jakarta. Hampir semuanya membahas banjir yang terjadi tahun ini. Meskipun hujan yang turun belum selebat seperti tahun kemarin dan banjir tidak / belum sampai menggenangi Bundaran HI, namun pemberitaan di media massa sungguh massive, bahkan menenggelamkan berita tentang meletusnya Gunung Sinabung.

Banjir Jakarta
Banjir Jakarta

Banjir memang sudah menjadi PR bagi siapa pun yang memimpin Jakarta sejak bertahun-tahun yang lalu. Banjir juga menjadi semacam ikon yang melekat ke Jakarta. Dan, konon banjir juga sudah terjadi sejak masa pendudukan Belanda, yang pada saat itu namanya masih Batavia. Itulah mengapa banyak kita lihat kanal-kanal besar (namun banyak yang tidak berfungsi 😥 ) di Jakarta. Artinya, dari jaman dahulu Jakarta sudah menjadi daerah yang menjadi lintasan air kiriman dari Bogor. 😥

Alasan banjir yang terjadi tahun ini menjadi penghias di halaman-halaman media cetak dan elektronik adalah karena pengaruh embel-embel yang menyertainya. Apakah embel-embel itu? Yaitu Pak Gubernur dan Pak Wakil Gubernur yang eksepsional, unik, dan berbeda dari periode-periode sebelumnya. Background mereka yang berasal dari daerah dan partai yang berbeda, serta style kepemimpinan yang berbeda selalu menjadi buah bibir di media. Pak Joko Widodo (baca: Jokowi) dengan kesederhanaan dan kepolosannya yang selalu “blusukan” dari kampung ke kampung untuk menjaring apa yang menjadi kebutuhan rakyat, sedangkan Pak Basuki T. Purnama (baca: Ahok) dengan ketegasan dan keberaniannya merubah budaya kerja Pemda DKI seolah menjadi kombinasi yang unik, meskipun masih terlalu dini untuk mengatakan mereka adalah pasangan yang pas. 😳

Adanya dorongan dan dukungan yang kuat agar Pak Jokowi menjadi Capres di Pemilu 2014 juga menjadi salah satu sebab, mengapa banjir Jakarta menjadi barometer tingkat popularitas dan kesuksesannya dalam membenahi Jakarta. Di lain pihak, ada pihak-pihak yang memanfaatkan banjir ini sebagai alat untuk menjatuhkan popularitas Pak Jokowi yang melejit pada beberapa survey Capres tahun 2014. Inilah yang memprihatinkan. Bencana yang terjadi digunakan sebagai alat untuk melakukan manuver politik, bukannya bahu-membahu untuk mengatasinya secara bersama-sama. Dengan kata lain, Banjir yang dipolitisir. :mrgreen:

Terlepas dari semua masalah politik tersebut, banjir di Jakarta ini sudah seharusnya menjadi PR kita bersama. Banjir ini terjadi juga karena ulah kita yang masih belum begitu peduli terhadap lingkungan. Kalau kita tidak mau merubah pola hidup yang lebih ramah lingkungan, bukan hal yang mustahil jika kelak Jakarta akan tenggelam.

Continue reading “Jakarta Banjir, Salah Siapa?”