Sudahlah, Kami Sudah Lelah

Proses Pemilihan Umum (Pemilu) kali ini terasa sangat berbeda dibanding Pemilu sebelumnya. Perbedaan yang dirasakan adalah tingkat antusiasme masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya. Pada saat Pemilu Legislatif memang masih belum begitu tampak, walaupun sudah mulai terlihat poros-poros yang bermunculan. Poros-poros ini kemudian mengerucut menjadi dua kutub/kubu besar yang saling berseberangan. Dan pada akhirnya Pemilu Presiden dan Wakil Presiden kali ini hanya memunculkan dua pasangan calon.

Begitu keran kampanye dibuka, byurrr!!! Semua informasi yang menyangkut visi, misi segera disosialisasikan oleh masing-masing kubu. Media sebagai ujung tombak dalam proses ini pun akhirnya terbelah menjadi dua. Ketika taipan-taipan media mulai merapat ke salah satu kandidat. Maka dimulailah yang namanya perang informasi. Profesionalisme dan kode etik jurnalistik dikesampingkan demi mendukung salah satu kandidat dan menjatuhkan yang lainnya. Bahkan ada media yang secara terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap salah satu kandidat. Hal semacam ini menurut hemat saya telah menodai apa yang dinamakan kode etik jurnalistik (meskipun saya sendiri kurang paham makanan seperti apakah itu, hanya saja kelihatannya enak, hehehe…).

Metode ini rupanya cukup efektif dalam membentuk opini publik, walaupun di era yang penuh keterbukaan seperti ini, hal tersebut sedikit sulit untuk dilakukan. Masyarakat dapat melakukan riset mandiri dengan mencoba membandingkan sebuah tema berita dari media satu dengan media yang lainnya. Walaupun secara manusiawi pada akhirnya masing-masing orang hanya membaca berita yang ingin mereka dengar.

Continue reading “Sudahlah, Kami Sudah Lelah”