Welcome to Switzerland: Bern

Switzerland atau yang lebih kita kenal dengan Swiss, merupakan salah satu negara di Eropa yang terletak di tengah dan berbatasan langsung dengan Perancis, Jerman, Italia, Liechtenstein, dan Austria. Karena berbatasan dengan negara-negara tersebut, maka menjadikan Swiss sebagai negara yang unik. Negara ini menggunakan 3 bahasa, yaitu Perancis, Jerman, dan Italia. Jika kita bepergian dari satu kota ke kota yang lain, misalnya dari Jenewa menuju Zurich, maka akan tampak sekali perbedaannya. Dari cara bicara orang-orangnya, sampai rambu dan tanda-tanda di sepanjang jalan. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada peta di bawah ini, bagaimana posisi Swiss dengan negara-negara tetangganya.

Peta Swiss
Peta Swiss

Posisi Swiss di tengah-tengah ini juga mencerminkan kenetralannya. Swiss adalah sebuah negara di Eropa yang tidak pernah terlibat perang dengan negara manapun. Oleh karena itu, tidak heran jika organisasi tingkat dunia seperti PBB mendirikan kantor di negara tersebut yang berada di Jenewa. Selain itu banyak juga orang-orang kaya (para konglomerat) dunia menyimpan uang dan harta kekayaannya di Swiss karena memandang negara ini sebagai negara yang stabil dan aman.

Ibu kota Swiss adalah Bern dan memiliki dua buah bandara internasional yang berada di Zurich dan Jenewa. Selain itu masih terdapat pula beberapa kota-kota lainnya yang cukup terkenal, antara lain; Interlaken, Lausanne, Lucerne, dsb.

Pada postingan yang lalu sudah diceritakan bagaimana perjalanan saya dari Singapura menuju Zurich, dan untuk kali ini saya akan sharing pengalaman ketika berada di Swiss selama beberapa hari.

Disclaimer: Ingat! Saya hanya beberapa hari lho, ya. Bukan tinggal dalam waktu yang lama, jadi apa pun yang diceritakan bisa jadi sedikit berbeda dengan orang yang tinggal lebih lama di sana. Bisa dikatakan semacam “Selayang Pandang tentang Swiss“. Bagi sebagian teman-teman mungkin ada yang paham mengapa saya menuliskan Disclaimer ini. :mrgreen:

Baiklah, mari kita mulai. Begitu mendarat di Zurich, suasana berbeda sudah langsung saya dapati. Mungkin ini karena pengaruh perbedaan iklim. Selain dari segi udara yang dinginnya menusuk tulang, juga dari nuansa pemandangan di luar. Saya datang pada saat musim gugur dan akan memasuki musim dingin, oleh karenanya sebagian besar pepohonan daunnya mulai menguning, sehingga tampak kontras dengan warna langit yang biru bersih dihiasi sedikit awan putih.

Pemandangan di Zurich
Pemandangan di Zurich

Turun dari pesawat saya naik semacam monorel untuk menuju bagian imigrasi dan pengambilan bagasi. Tidak ada yang terlalu istimewa, hanya saja bila dibandingkan dengan Changi, Zurich sungguh jauh berbeda. Bandaranya lengang, tidak terlalu banyak orang. Bahkan sepertinya yang akan menuju imigrasi dan klaim bagasi, ya hanya orang-orang yang tadi satu pesawat dengan saya. :mrgreen:

Selesai urusan imigrasi dan bagasi, kemudian menyeberang ke bangunan di seberang jalan. Nah, di lantai basement sebaiknya kita langsung membeli yang namanya Swiss Pass. Semacam tiket terusan yang bisa digunakan selama kita berada di Swiss. Tiket ini dapat digunakan baik untuk sarana transportasi maupun sebagai tiket masuk museum-museum yang ada di Swiss. Harga tiketnya tergantung dari durasi waktunya (selama berapa hari) dan kelas yang digunakan (apakah eksekutif atau yang biasa saja). Saya sendiri memilih kelas yang biasa dan mengambil paket untuk 4 hari, sesuai dengan keperluan. Harganya waktu itu adalah CHF.251.

Swiss Pass Tampak Depan
Swiss Pass Tampak Depan (klik untuk meperbesar)
Swiss Pass Tampak Belakang (klik utk memperbesar)
Swiss Pass Tampak Belakang (klik untuk memperbesar)

Setelah mendapat Swiss Pass, saya turun ke lantai paling bawah di mana peron kereta berada. Sesuai jadwal yang tertera, saya menunggu tidak terlalu lama, hanya sekitar 10 menit kemudian kereta datang. Waktu itu saya memilih kereta yang akan menuju ke Bern, dan duduk di gerbong kelas 2 sesuai dengan tiket.

Kereta di Swiss
Kereta di Swiss

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam, sampailah di stasiun City Bahnhof, Bern. Udara di Bern ternyata lebih dingin dari Zurich, dan suasananya pun lebih kelabu. Mungkin karena mendung. Keluar dari stasiun City Bahnhof, kita sudah disambut oleh bangunan-bangunan tua khas Eropa, yang sangat menggelitik bagi Anda yang suka dengan fotografi. 🙂

Gedung Tua di depan Stasiun City Bahnhof
Gedung Tua di depan Stasiun City Bahnhof

Kemudian saya menyeberang menuju halte bus di depan City Hotel, yang terletak tepat di seberang stasiun. Untuk menuju KBRI Bern, saya menggunakan bus nomor 19 jurusan Elfenau dan turun di halte Willadingweg. Dari halte tersebut, cukup menyeberang jalan dan hanya sekitar 100 meter sampailah di depan KBRI Bern. Ternyata di sana perwakilan kita bentuknya seperti rumah, tidak terlalu besar dengan luas halaman yang cukup terbatas. Setelah bertemu dengan teman saya dan menghadap “tuan rumah”, kemudian kami diantar menuju penginapan yang sudah dipesan sebelumnya lewat AirBnB.

Gedung KBRI Bern
Gedung KBRI Bern

Penginapan kami berbentuk rumah, lengkap dengan kamar tidur, ruang makan, dapur, dan kamar mandi. Tempatnya sangat nyaman dan rapi. Oh iya, saya tidak sendiri waktu itu, karena beberapa teman dari perwakilan lain juga berkunjung ke sana. Kami bertiga menginap di rumah tersebut. Untuk menuju ke sana bisa menggunakan bus nomor 19 yang ke arah Blinzern kemudian turun di halte Steingrubenweg. (serius, waktu itu saya puyeng baca nama-nama tempatnya! 🙁 )

Setelah meletakkan koper dan barang bawaan, kami langsung melanjutkan petualangan di sekitar stasiun City Bahnhof, masih menggunakan bus yang sama yaitu nomor 19. Tujuan kami adalah untuk mencari makan malam. Setelah berjalan berkeliling, akhirnya pilihan jatuh pada sebuah restoran yang menjual spaghetti, namanya Spaghetti Factory. Rasanya oke, tapi ternyata porsinya luar biasa, ukuran bule. 😯

Sehabis makan, kami sempatkan melihat-lihat pertunjukan laser dan cahaya di depan Bundesplatz, sebuah bangunan tua yang merupakan gedung parlemen Swiss. Selain kami, ternyata penduduk lokal pun sangat antusias untuk melihat pertunjukan tersebut. Ketika saya tanyakan kepada salah satu dari mereka, ternyata pertunjukan tersebut hanya diadakan setahun sekali sekitar bulan Oktober sampai dengan November. Wah, alangkah beruntungnya kami karena masih sempat menyaksikan pertunjukan tersebut. 😀

Bundesplatz, Gedung Parlemen Swiss
Bundesplatz, Gedung Parlemen Swiss
Bundesplatz berubah bentuk oleh permainan cahaya
Bundesplatz berubah bentuk oleh permainan cahaya

Usai pertunjukan kami pun segera melangkah pulang, menuju halte bus di depan stasiun City Bahnhof. Sampai di penginapan kami segera bersih-bersih dan istirahat, mempersiapkan tenaga untuk petualangan berikutnya. 😉

Ke manakah itu? Simak di postingan saya berikutnya.

Note: Jika ingin melihat koleksi foto yang lebih lengkap, silahkan kunjungi Photo Blog saya di http://cagakurip.blogspot.com.

Author: Tatang Tox

Hanya manusia biasa / kawulo alit yang senang menulis dan fotografi.

3 thoughts on “Welcome to Switzerland: Bern”

Leave a Reply