Sudahlah, Kami Sudah Lelah

Proses Pemilihan Umum (Pemilu) kali ini terasa sangat berbeda dibanding Pemilu sebelumnya. Perbedaan yang dirasakan adalah tingkat antusiasme masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya. Pada saat Pemilu Legislatif memang masih belum begitu tampak, walaupun sudah mulai terlihat poros-poros yang bermunculan. Poros-poros ini kemudian mengerucut menjadi dua kutub/kubu besar yang saling berseberangan. Dan pada akhirnya Pemilu Presiden dan Wakil Presiden kali ini hanya memunculkan dua pasangan calon.

Begitu keran kampanye dibuka, byurrr!!! Semua informasi yang menyangkut visi, misi segera disosialisasikan oleh masing-masing kubu. Media sebagai ujung tombak dalam proses ini pun akhirnya terbelah menjadi dua. Ketika taipan-taipan media mulai merapat ke salah satu kandidat. Maka dimulailah yang namanya perang informasi. Profesionalisme dan kode etik jurnalistik dikesampingkan demi mendukung salah satu kandidat dan menjatuhkan yang lainnya. Bahkan ada media yang secara terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap salah satu kandidat. Hal semacam ini menurut hemat saya telah menodai apa yang dinamakan kode etik jurnalistik (meskipun saya sendiri kurang paham makanan seperti apakah itu, hanya saja kelihatannya enak, hehehe…).

Metode ini rupanya cukup efektif dalam membentuk opini publik, walaupun di era yang penuh keterbukaan seperti ini, hal tersebut sedikit sulit untuk dilakukan. Masyarakat dapat melakukan riset mandiri dengan mencoba membandingkan sebuah tema berita dari media satu dengan media yang lainnya. Walaupun secara manusiawi pada akhirnya masing-masing orang hanya membaca berita yang ingin mereka dengar.

Continue reading “Sudahlah, Kami Sudah Lelah”

Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-69

Merdeka! Merdeka! Merdeka! Demikian kata yang diteriakkan seusai menjalani rangkaian kegiatan Upacara Bendera dalam memperingati Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-69. Setidaknya, saat ini adalah kali kedua bagi saya menjalani kegiatan HUT RI di negeri seberang.

Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air, hari ini 69 tahun yang lalu, para pemuda kita, diwakili oleh Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan negara kita. Negeri ini lepas dari belenggu penjajahan tidak dengan mudah apalagi merupakan hadiah dari penjajah. Perjuangan para pendahulu kita menguras air mata dan darah saat mengusir para penjajah. Pada waktu itu, seluruh elemen bersatu padu demi mewujudkan Indonesia yang Merdeka. Tidak memandang suku, agama, ras, dan daerah, mereka bahu membahu satu sama lain, saling bekerja sama demi satu kepentingan, demi menggapai satu cita, sebuah kata MERDEKA!

Kini setelah 69 tahun berlalu, layakkah kita kembali bertanya, “Benarkah kita sudah MERDEKA? Ataukah saat ini justru kita masih dijajah namun dalam bentuk yang lain?”

logo_hut_ri_ke_69

Continue reading “Dirgahayu Kemerdekaan RI ke-69”

Kesadaran Politik Masyarakat Kita

Dari blog lama sampai akhirnya pindah kemari, sebetulnya saya paling malas untuk membahas masalah politik. Karena bagi saya pribadi, berbicara masalah politik berarti kita berbicara mengenai sebuah ketidakpastian. Semuanya terasa abu-abu dan palsu. Saat ini bilang A, eh, ternyata besok sore sudah bilang Z. Jadi sering saya menggeneralisir bahwa dunia politik adalah dunia yang penuh kemunafikan. 😐

Lalu mengapa kali ini saya menulis hal yang berkaitan dengan politik? Berarti saya juga ikutan munafik dong? 😳 Tunggu dulu, apa yang akan saya tuliskan di sini bukan membahas mengenai hipotesa-hipotesa politik yang saat ini sedang berkembang di negara kita, melainkan lebih menyoroti kondisi sosial masyarakat kita dalam memandang politik itu sendiri. Saya ingin berbagi, sejauh mana masyarakat kita mengerti dan mengenal politik. Karena dengan mengetahui pemahaman masyarakat kita tentang politik, maka kita dapat mengukur kualitas bangsa kita secara general dibandingkan dengan negara lain.

Alasan saya menulis tema ini adalah berasal dari perbincangan dengan seorang teman dari Indonesia yang sudah beberapa tahun hidup di luar negeri, yaitu Singapura. Beliau mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2 di salah satu perguruan tinggi terkemuka di negeri Singa dan sampai saat ini bekerja di perguruan tinggi tersebut. Saat kami menjadi tim KPPSLN, kami sempat bertukar pikiran walaupun sedikit :mrgreen: ,  mengenai dinamika politik yang terjadi di Indonesia, khususnya terkait Pemilu.

Sebelum melangkah lebih jauh, perlu diketahui bahwa ada dua golongan di dalam masyarakat kita, yaitu yang terlibat langsung dalam kancah perpolitikan dan ada pula yang hanya menjadi pengamat saja. Yang terlibat langsung seperti misalnya caleg (calon anggota legislatif), pengurus ataupun anggota partai tertentu, dan simpatisan partai tertentu. Sedangkan kelompok yang lain adalah kelompok masyarakat secara umum, yang biasanya hanya menjadi pengamat bahkan terkadang cenderung apatis dengan masalah perpolitikan.

Masa Kampanye

Continue reading “Kesadaran Politik Masyarakat Kita”

Sukses Pemilu Legislatif 2014 di Singapura

Pemilu Singapura
Pemilu Singapura

Tanggal 6 April 2014 menjadi hari yang bersejarah bagi seluruh warga negara RI yang berada di Singapura. Mengapa? Karena pada hari tersebut, telah dilaksanakan sebuah proses pembelajaran kehidupan berdemokrasi, yaitu Pemilihan Umum untuk Anggota Badan Legislatif periode 2014-2019. 😎

Pendataan dan Registrasi

Jauh-jauh hari sebelumnya, PPLN (Panitia Pemilihan Umum Luar Negeri) Singapura bekerja sama dengan Pantarlih (Panitia Pendaftaran Pemilih) telah mengirimkan surat undangan kepada seluruh WNI yang berada di Singapura. Di dalam surat tersebut dijelaskan mengenai proses Pemilihan Umum yang akan dilaksanakan di KBRI Singapura. Selain itu, juga dimohon mengirimkan konfirmasi perihal metode pemilihan yang dikehendaki, apakah datang langsung ke KBRI pada hari H atau memilih lewat pos. Selain lewat surat, PPLN juga membuka proses registrasi secara online, melalui website http://www.pplnsingapura.org. Dari data yang diperoleh dari PPLN Singapura, tercatat sebanyak 112.123 orang yang menjadi DPT (Daftar Pemilih Tetap) di Singapura.

Saya sendiri telah mencoba dua metode yang berbeda dalam mendaftar sebagai pemilih pada Pemilu Legislatif kali ini. Saya dan istri kebetulan mendapat surat undangan dari PPLN yang meminta konfirmasi mengenai metode pemilihan yang kami pilih. Namun ternyata pembantu kami belum mendapatkan surat yang dimaksud, oleh karena itu kemudian saya mendaftarkan dia melalui website PPLN. Dan tidak saya sangka, kurang dari seminggu, pembantu kami juga mendapatkan surat undangan untuk melakukan pemilihan. 😎

Sebagai informasi tambahan, pada surat undangan yang dikirimkan kepada calon pemilih dilengkapi dengan Barcode yang nantinya berfungsi saat proses registrasi pada hari pencoblosan maupun saat penghitungan suara.

Masa Persiapan dan Dukungan Teknis

Demi mendukung dan memastikan kelancaran pelaksanaan pada saat hari H, PPLN Singapura merangkul masyarakat Indonesia yang berada di Singapura untuk bergabung ke dalam KPPSLN (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri). Tidak kurang dari dari 250 orang bergabung ke dalam KPPSLN ini yang kemudian dibagi kedalam 36 kelompok. Masing-masing kelompok yang beranggotakan sekitar 5 orang bertanggung jawab untuk satu TPS (Tempat Pemungutan Suara) dengan 4 bilik suara. Selain itu, masih ada beberapa orang lagi yang dialokasikan untuk bertugas di meja registrasi dan berfungsi sebagai care taker untuk membantu kelancaran mobilisasi massa.

Tim KPPSLN Singapura 2014
Tim KPPSLN Singapura 2014

Para anggota KPPSLN ini sudah mendapatkan pembekalan yang cukup matang melalui Bimtek (Bimbingan Teknis) yang diselenggarakan oleh PPLN Singapura. Bimtek untuk anggota KPPSLN ini dilaksanakan sebanyak 2 kali, yaitu pada tanggal 16 dan 22 Maret 2014. Pada acara Bimtek tersebut, juga dilakukan simulasi seperti halnya ketika pelaksanaan pemungutan suara yang sesungguhnya. Hal ini dilakukan agar para anggota KPPSLN benar-benar mengerti akan tugas dan tanggung jawabnya. Bahkan pada hari H-1 meskipun hujan lebat mengguyur Singapura, para anggota KPPSLN ini tetap antusias datang ke KBRI Singapura untuk memastikan bahwa semua atribut yang akan dipakai pada saat hari-H sudah lengkap.

Sebagai orang yang masih terbilang baru tinggal di Singapura dan baru pertama kalinya terlibat dalam Pemilu di luar negeri, saya merasa terharu sekaligus bangga melihat semangat dan antusiasme saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang tergabung dalam KPPSLN ini. Mereka memiliki komitmen yang tinggi untuk turut menyukseskan Pemilu Legislatif kali ini.

PPLN Singapura juga mendapat bantuan tenaga untuk satgas pengamanan. Sekitar 8 orang dari Mabes Polri dikirimkan khusus dari pusat untuk mendukung pengamanan KBRI Singapura selama proses Pemilu berlangsung. Di samping itu, terdapat juga Bobotoh Singapura yang dipersiapkan untuk turut membantu mengamankan selama proses pencoblosan di bawah koordinasi Tim Pengamanan KBRI Singapura.

Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, KBRI Singapura juga mendapatkan bantuan tenaga pengamanan dari Tanglin Police Division Headquarter sebanyak 2 tim dengan 2 mobil patroli. Tim dari kepolisian Tanglin ini turut membantu pengamanan untuk area di sekitar KBRI Singapura. 😯

Untuk membantu kelancaran mobilisasi para pemilih, PPLN Singapura juga mempersiapkan semacam Shuttle Bus untuk mengantarkan para pemilih sampai dengan stasiun MRT terdekat. Hal ini untuk mengantisipasi bergerombolnya massa untuk menunggu angkutan umum. Sehingga aliran orang yang datang dan pergi bisa lebih lancar.

Hari Pencoblosan

Continue reading “Sukses Pemilu Legislatif 2014 di Singapura”

Sudah Hari Rabu Atau Baru Hari Rabu?

Kalau berbicara hari Senin, tentu kita semua sudah mengenal slogan “I hate Monday“. Karena berarti kita harus bersiap bergulat dengan segala rutinitas dan aktivitas. Sedangkan ketika hari Jumat, kita biasa mengatakan “Semangat Jumat”. Karena ia berada di penghujung minggu yang berarti akan segera datang akhir pekan. Waktu di mana kita bisa melepas penat dan meletakkan segala beban pekerjaan.

Hari Rabu sebenarnya sama dengan hari-hari yang lainnya. Ada hal yang membuatnya sedikit istimewa, yaitu dia berada di tengah-tengah hari kerja dalam satu minggu. Dan yang menarik adalah cara seseorang memandang si hari Rabu ini. Ada sebuah penelitian membuktikan bahwa pada hari Rabu banyak orang yang melakukan update status melalui akun jejaring sosial mereka. 😯

Kecenderungan ini mungkin terjadi karena hari Rabu merupakan peak season dalam satu minggu kita bekerja. Sehingga kita melampiaskan kepenatan dan tekanan kita dengan melakukan update status di berbagai situs jejaring sosial. (Waduh, saya ini sebenarnya mau nulis tentang apa ya? Kok kayanya jadi ngelantur begini 😳 )

Apa yang ingin saya garis bawahi di sini sebenarnya adalah masalah sudut pandang, perspektif, atau point of view. Dengan sudut pandang yang berbeda, maka akan dapat menimbulkan reaksi yang berbeda pula. Coba perhatikan kalimat, “Ini baru hari Rabu, ya?”. Maka selanjutnya kita akan melewati hari-hari dengan terasa berat dan lama. Rasa-rasanya kok akhir pekan masih lama, dsb. 😥

Tapi ketika kita berkata, “Wah, sudah hari Rabu, ya?”. Maka kita akan merasa bahwa waktu berjalan begitu cepat, sehingga tidak terasa kita akan segera bertemu dengan akhir pekan lagi. :mrgreen:

Continue reading “Sudah Hari Rabu Atau Baru Hari Rabu?”

Semarak Panggung Gembira KBRI Singapura 2013

Panggung Gembira KBRI Singapura 2013
Panggung Gembira KBRI Singapura 2013

Berada di negeri seberang saat perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tentunya akan memberikan sensasi tersendiri. Ketika di tanah air, banyak perayaan dan perlombaan diadakan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI yang jatuh pada tanggal 17 Agustus tersebut, maka hal yang berbeda akan dirasakan oleh saudara-saudara kita yang sedang berada di luar negeri.

Dalam rangka merayakan dan memeriahkan HUT RI ke-68, tepatnya pada tanggal 1 September 2013 tahun lalu, KBRI Singapura menggelar acara akbar yaitu Panggung Gembira & Bazar. Kegiatan ini selain memberikan hiburan bagi seluruh warga negara Indonesia yang berada di Singapura, juga merupakan media yang paling tepat untuk melakukan sosialisasi mengenai Pemilihan Umum yang akan dilaksanakan tahun 2014 ini. Tidak tanggung-tanggung, Ketua KPU sendiri, Bapak Husni Kamil Malik yang memberikan sosialisasi kepada WNI yang hadir pada hari itu.

Pagi itu, meskipun gerbang utama belum dibuka, namun sudah tampak ratusan warga negara Indonesia di Singapura berbondong-bondong dan bergerombol di depan gerbang KBRI. Mereka terlihat sangat antusias untuk bertemu dengan artis-artis idolanya, seperti D’Bagindas, Irfan Hakim, Fitri Karlina, Iis Dahlia, Dimas Beck dan beberapa artis pendatang baru lainnya. Sementara itu, di dalam lingkungan KBRI, puluhan tenda telah berjajar rapi dengan komoditi dan barang dagangan masing-masing. Dan dibelakang gedung, telah berdiri dengan megahnya tenda putih dan panggung lengkap dengan sound system yang siap menghentak. 😎

Suasana Pagi Panggung Gembira 2013
Suasana Pagi Panggung Gembira 2013

Continue reading “Semarak Panggung Gembira KBRI Singapura 2013”

Jakarta Banjir, Salah Siapa?

Beberapa hari ini, media massa baik cetak maupun elektronik memborbardir kita dengan berita mengenai banjir yang menggenangi Jakarta. Hampir semuanya membahas banjir yang terjadi tahun ini. Meskipun hujan yang turun belum selebat seperti tahun kemarin dan banjir tidak / belum sampai menggenangi Bundaran HI, namun pemberitaan di media massa sungguh massive, bahkan menenggelamkan berita tentang meletusnya Gunung Sinabung.

Banjir Jakarta
Banjir Jakarta

Banjir memang sudah menjadi PR bagi siapa pun yang memimpin Jakarta sejak bertahun-tahun yang lalu. Banjir juga menjadi semacam ikon yang melekat ke Jakarta. Dan, konon banjir juga sudah terjadi sejak masa pendudukan Belanda, yang pada saat itu namanya masih Batavia. Itulah mengapa banyak kita lihat kanal-kanal besar (namun banyak yang tidak berfungsi 😥 ) di Jakarta. Artinya, dari jaman dahulu Jakarta sudah menjadi daerah yang menjadi lintasan air kiriman dari Bogor. 😥

Alasan banjir yang terjadi tahun ini menjadi penghias di halaman-halaman media cetak dan elektronik adalah karena pengaruh embel-embel yang menyertainya. Apakah embel-embel itu? Yaitu Pak Gubernur dan Pak Wakil Gubernur yang eksepsional, unik, dan berbeda dari periode-periode sebelumnya. Background mereka yang berasal dari daerah dan partai yang berbeda, serta style kepemimpinan yang berbeda selalu menjadi buah bibir di media. Pak Joko Widodo (baca: Jokowi) dengan kesederhanaan dan kepolosannya yang selalu “blusukan” dari kampung ke kampung untuk menjaring apa yang menjadi kebutuhan rakyat, sedangkan Pak Basuki T. Purnama (baca: Ahok) dengan ketegasan dan keberaniannya merubah budaya kerja Pemda DKI seolah menjadi kombinasi yang unik, meskipun masih terlalu dini untuk mengatakan mereka adalah pasangan yang pas. 😳

Adanya dorongan dan dukungan yang kuat agar Pak Jokowi menjadi Capres di Pemilu 2014 juga menjadi salah satu sebab, mengapa banjir Jakarta menjadi barometer tingkat popularitas dan kesuksesannya dalam membenahi Jakarta. Di lain pihak, ada pihak-pihak yang memanfaatkan banjir ini sebagai alat untuk menjatuhkan popularitas Pak Jokowi yang melejit pada beberapa survey Capres tahun 2014. Inilah yang memprihatinkan. Bencana yang terjadi digunakan sebagai alat untuk melakukan manuver politik, bukannya bahu-membahu untuk mengatasinya secara bersama-sama. Dengan kata lain, Banjir yang dipolitisir. :mrgreen:

Terlepas dari semua masalah politik tersebut, banjir di Jakarta ini sudah seharusnya menjadi PR kita bersama. Banjir ini terjadi juga karena ulah kita yang masih belum begitu peduli terhadap lingkungan. Kalau kita tidak mau merubah pola hidup yang lebih ramah lingkungan, bukan hal yang mustahil jika kelak Jakarta akan tenggelam.

Continue reading “Jakarta Banjir, Salah Siapa?”