Cari Kos-kosan Dengan Jarimu

Apakah Anda sedang mencari kos-kosan atau kamar sewa? Atau justru ingin menawarkan kamar kosong di rumah Anda untuk disewakan? Lantas apa yang akan Anda lakukan? :mrgreen:

Judul di atas tentunya mengingatkan kita pada era 90-an di mana teknologi internet belum seperti sekarang. Dulu kita sering bergantung pada yang namanya Yellow Pages, sebuah ‘buku sakti’ yang biasa kita dapatkan dari Telkom. Tagline yang digunakan adalah “Cari tahu dengan jarimu” 😆

Tagline tersebut menurut saya masih sesuai dengan kondisi sekarang. Hanya saja bedanya adalah, jika dulu kita menggunakan jari untuk membuka halaman Yellow Pages dan menelusuri baris per baris, saat ini kita menggunakan jari kita untuk menggerakkan cursor pada layar komputer ataupun mengoperasikan smartphone.

Yup, semuanya kini serba berbasis internet. Dunia menjadi sebuah tempat yang tiada batas. Pada saat yang bersamaan kita dapat berinteraksi dengan saudara-saudara kita di belahan bumi yang lain, seolah kita sedang berada di tempat yang sama. Perkembangan internet benar-benar telah mengubah kebiasaan dan pola berinteraksi manusia.

Oke, kembali pada paragraf pertama di atas. Apa yang akan Anda lakukan jika ingin mencari kos-kosan atau kamar sewa? Biasanya kita akan berkeliling ke suatu daerah atau pemukiman, sambil melihat-lihat apakah ada tanda “Sedia Kamar Kos” di depan rumah atau tidak. Mendatangi satu per satu sambil melihat-lihat kondisinya, dan berpindah ke rumah yang lain jika memang dirasa belum cocok. Paling tidak itulah yang pernah saya lakukan. Maklum, saya ini kan termasuk generasi 90-an. :mrgreen:

Begitu pula bagi Anda yang memiliki kamar kosong yang ingin disewakan. Biasanya akan menempelkan kertas dengan tulisan “Sedia Kamar Kos” atau “Ada kamar kosong”. Yang lebih advance biasanya akan menempelkan di tiang-tiang listrik maupun menyebarkan pamflet di pusat-pusat keramaian. Betul kan? Hayo ngaku! 😆

Apakah dua hal di atas itu salah? Sama sekali tidak! Hanya saja sekarang ini sudah ada cara yang lebih mudah. Jadi bagaimana caranya?

Serumah dot Com
Serumah dot Com

Continue reading “Cari Kos-kosan Dengan Jarimu”

7 Plugin WordPress Bagi Blogger Pemula

Bila Anda seorang blogger dan menggunakan metode self hosted serta wordpress.org sebagai platform, maka saat ini sudah berada di tempat yang tepat. Karena kali ini saya akan membahas mengenai beberapa plugin yang wajib digunakan oleh pemula (seperti saya :mrgreen: ) untuk platform wordpress.org.

Beberapa waktu yang lalu saya sempat sharing mengenai cara membuat blog dengan domain sendiri terutama dengan metode self hosted. Ada beberapa pertimbangan ketika kita akan memutuskan  untuk menggunakan self hosted domain.

Bila tujuan nge-blog adalah untuk sekedar berbagi informasi, aktualisasi diri, sebagai tempat curhat, atau sebagai semacam jurnal pribadi, maka Anda dapat menggunakan blogger.com atau wordpress.com. Tapi bila tujuan Anda nge-blog adalah untuk mendapatkan penghasilan tambahan ataupun sebagai sarana untuk personal branding, maka blog dengan metode self hosted akan menjadi sebuah opsi yang patut dipertimbangkan.

Dengan menggunakan self hosted dan Top Level Domain, seperti misalnya NamaAnda.com, atau UsahaAnda.co.id, maka blog atau website yang kita kelola akan tampak lebih profesional, baik di mata user maupun mesin pencari (search engine). 😎

Bagi sebagian orang, mengelola blog dengan metode self hosted dirasa cukup sulit dan merepotkan karena harus memiliki sedikit pengetahuan tentang komputer, jaringan, dan bahasa pemrograman. Namun sebenarnya hal tersebut dapat disiasati dengan penggunaan plugin yang tersebar begitu banyak, bahkan mungkin mencapai ribuan.

Recomended WordPress Plugin
Recomended WordPress Plugin

Pada dasarnya, plugin berisi kode-kode pemrograman untuk web. Untuk plugin wordpress.org biasanya berbasis .php, meskipun tidak selalu. Ada juga yang berbasis java. Sebetulnya apabila kita memahami bahasa pemrograman untuk web, misalnya .php, kita dapat melakukan kustomisasi langsung ke dalam blog atau website tersebut tanpa perlu menggunakan plugin.

Tapi bagi orang yang awam terhadap bahasa pemrograman (seperti saya :mrgreen: ), maka kita bisa menggunakan plugin yang memang sudah disediakan oleh wordpress.org. Masalahnya adalah, di antara ribuan plugin yang tersedia tersebut, mana sajakah yang memang benar-benar kita perlukan? Karena dengan menginstal plugin tertentu kita juga harus berhitung terhadap kemampuan storage pada web hosting yang dimiliki. Terkecuali Anda berlangganan web hosting yang memiliki disk space unlimited, maka hal itu tidak perlu dikhawatirkan.

Dari hasil pengalaman saya pribadi, berikut ini adalah beberapa plugin yang wajib diinstal pada wordpress.org :

Continue reading “7 Plugin WordPress Bagi Blogger Pemula”

Update ke WordPress Versi 4.4.2

Setelah sekian lama, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan update platform blog saya ke versi terbaru yakni WordPress 4.4.2. Mengapa demikian? Karena berdasarkan info yang saya peroleh dari berbagai website dan blog, termasuk dari halaman resmi wordpress.org menyatakan bahwa dengan melakukan update ke versi terbaru berarti juga membantu menutup celah-celah keamanan yang ada pada versi sebelumnya. Hal ini sangat penting bagi saya, karena aspek keamanan blog self hosted tidak ada yang memikirkan kecuali si web-admin itu sendiri.

Kalau memakai wordpress.com, mungkin kita akan dimanjakan dengan berbagai fitur yang sudah disediakan, terutama aspek keamanannya. Tapi untuk wordpress.org, kita sendiri-lah yang harus memikirkan aspek keamanannya.

wordpress

Pada wordpress versi 4.4.2 ini paling tidak ada 17 bug yang sudah diperbaiki dari versi sebelumnya. Untuk lebih jelasnya, Anda dapat langsung mengunjungi halaman berikut http://codex.wordpress.org/Version_4.4.2

Awalnya saya sempat ogah-ogahan untuk melakukan update, karena yang terbayang adalah keribetan dan kekhawatiran bahwa update tersebut justru akan merusak blog saya. Namun ternyata apa yang saya takutkan tersebut sama sekali tidak terjadi. Caranya sangat mudah sekali untuk melakukan update wordpres 4.4.2 ini.

Ada 2 cara yang dapat ditempuh untuk melakukan update yaitu melalui cPanel dan melalui Dashboard. Saya akan mencoba menjelaskan secara singkat masing-masing cara tersebut.

Continue reading “Update ke WordPress Versi 4.4.2”

UBER-lah GOJEK, TAXI ku-GRAB

Kemarin atau tepatnya 22 Maret 2016, kita menjadi saksi betapa masyarakat dari kalangan menengah ke bawah harus berkonfrontasi dengan saudaranya sendiri demi mempertahankan apa yang sudah menjadi mata pencaharian mereka selama ini. Perseteruan antara moda transportasi umum konvensional dengan moda transportasi umum berbasis aplikasi akhirnya mencapai klimaksnya.

Gojek dan Blue Bird
Gojek dan Blue Bird

Sebelumnya, pada tanggal 14 Maret 2016, para pengemudi angkutan umum konvensional sudah menggelar demo meminta angkutan umum berbasis aplikasi supaya ditutup, dan perusahaan penyedia jasa aplikasi tersebut harus angkat kaki dari Indonesia. Mereka berpendapat bahwa sejak kemunculan angkutan umum berbasis aplikasi ini, menurunkan omset / pendapatan mereka. Karena pengguna kini lebih memilih angkutan umum yang berbasis aplikasi tersebut, sebut saja, GoJek, Uber, dan Grab.

Saya pun bukan tanpa alasan menulis judul di atas. Mengapa? Karena itulah aktor utama dalam kisah kesemrawutan masalah pengaturan transportasi umum di negeri kita ini. Merekalah yang saat ini menjadi sorotan dan terlibat dalam persengketaan.

Bibit-bibit perseteruan itu memang sudah mulai tumbuh sejak kemunculan Gojek. Betapa para pengemudi Gojek sering mengalami intimidasi dan tidak jarang penganiayaan dari para pengemudi ojek konvensional. Masalah pun kian meruncing ketika muncul aplikasi Uber dan Grab. Karena yang terusik bukan hanya ojek, melainkan angkutan umum roda 4 termasuk Taxi, Mikrolet, Angkot, Bajaj, dsb.

Isu yang selalu diangkat adalah bahwa sejak kemunculan angkutan berbasis aplikasi ini menurunkan omset mereka. Pendapatan mereka berkurang sementara banyak perut yang harus diisi di rumah. Oke, tapi apakah para pengemudi Gojek, Uber, dan Grab juga tidak memiliki keluarga yang harus diberi makan? Apakah hanya pengemudi angkutan umum konvensional saja yang keluarganya harus diberi makan?

Terlepas dari permasalahan di atas, izinkan saya sekedar berbagi pengalaman selama hampir 3 tahun hidup di negeri tetangga, Singapura. Di sini, kami biasa menggunakan aplikasi Grab untuk mencari taxi. Selain lebih cepat, kita juga tidak harus berjalan ke pinggir jalan untuk mencegat taxi yang lewat. Melalui aplikasi tersebut kita dapat mengetahui taxi mana saja yang posisinya paling dekat dengan lokasi kita. Kita pun dapat memilih jenis taxi yang diinginkan, apakah reguler, premium, atau maxi-cab.

Dari yang saya amati, hampir semua pengemudi taxi di Singapura terdaftar di dalam aplikasi Grab ini, dan semuanya sudah familiar dengan penggunaan Smartphone. Maka ketika muncul aplikasi Grab ini juga tidak ada gejolak, justru mereka melihat ini sebagai sebuah tools yang mampu membantu dalam pekerjaan mereka.

Oh ya, selain Grab, di sini juga terdapat aplikasi Uber. Namun sekali lagi, tidak ada protes ataupun keributan dari para penyedia jasa transportasi di sini. Semuanya berjalan lancar, seolah masing-masing sudah punya pangsa pasar tersendiri.

Ketika saya mengamati apa yang terjadi di tanah air, ada beberapa hal yang menjadi catatan:

Continue reading “UBER-lah GOJEK, TAXI ku-GRAB”

Pelangi Kini Tak Seindah Dulu Lagi

Buat Anda yang mengaku generasi 80-90 an, tentunya masih ingat lagunya Boomerang yang berjudul Pelangi, bukan? Atau Pelangi karya Koes Ploes yang dirilis ulang oleh grup Netral dengan nuansa musik yang lebih gahar? Atau bahkan lagu anak-anak Pelangi-pelangi? :mrgreen:

Masih lekat dalam ingatan ketika saya masih kecil, setelah hujan turun dan kemudian matahari kembali menampakkan diri, maka biasanya pelangi akan muncul serta tampak kontras dengan warna langit yang biru bersih. Aroma khas pasca hujan pun memenuhi udara. Hmm, segar rasanya. Waktu itu saya masih tinggal di Lampung. Sebuah propinsi yang pada saat itu belum mengalami pertumbuhan seperti kota-kota besar pada umumnya. Sebagian besar lahannya masih dimanfaatkan untuk areal persawahan dan perkebunan, sehingga udaranya belum banyak terkontaminasi. 😎

Pelangi hasil gambaran Nasywa
Pelangi hasil gambaran Nasywa

Ketika saya mulai hijrah ke Semarang, sesekali saya masih dapat melihat pelangi pasca hujan. Namun itu pun di daerah yang agak tinggi, seperti misalnya Gombel, Banyumanik, Ungaran dan sekitarnya. Sedangkan ketika saya mulai tinggal di Bekasi dan akhirnya menetap di Cikarang, belum tentu setahun sekali bisa melihat pelangi. 😥

Ada beberapa mitos yang berkembang mengenai pelangi ini. Ada yang menyebutkan saat muncul pelangi, itu pertanda para bidadari sedang turun ke bumi layaknya cerita Jaka Tarub – Nawang Wulan. 😳 Di Nusa Tenggara Timur, orang menyebut pelangi dengan Nipamoa. Nipa artinya ular, sedangkan moa artinya haus/kehausan. Jadi mereka menganggap pelangi semacam jelmaan ular yang sedang turun ke bumi untuk mencari sumber air. Dan biasanya mereka akan menelusuri ke arah mana kaki pelangi itu turun. Biasanya kemunculan pelangi akan dikaitkan dengan keberkahan, atau sebagai pertanda alam yang baik. Bahkan ada yang mengganggap pelangi semacam jembatan yang menghubungkan antara surga dan dunia. 🙂

Proses terjadinya pelangi sendiri adalah karena terurainya titik air hujan oleh sinar matahari. Itulah mengapa pelangi sering muncul setelah turunnya hujan. Warna-warna yang ada pada pelangi merupakan komponen spektrum warna dari cahaya putih. Atau dengan kata lain, cahaya putih itu kalau diuraikan akan memunculkan spektrum warna-warni pelangi. Nah, untuk lebih detailnya, silahkan buka buku fisika, yah. Saya juga lieur kalau harus menerangkannya di sini. :mrgreen:  (haduh, kok jadi ngelantur begini sih. 😳 )

Oke, cukup basa-basinya. Jadi apa yang ingin saya ungkapkan adalah, bahwa pelangi merupakan lambang bentuk keindahan, bentuk keberkahan, dan bentuk kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Baik dari proses terjadinya maupun dari bentuk atau wujudnya yang dapat kita nikmati bersama. Tentu kita semua akan sependapat jika pelangi itu indah, betul?

Tapi seperti yang sudah saya singgung di atas tadi, bahwa kita mungkin akan sulit melihat pelangi di daerah perkotaan terutama yang memiliki tingkat intensitas polusi yang tinggi. Karena udaranya sudah bercampur dengan banyak gas-gas polutan yang beterbangan di atmosfer. Selain itu, terlalu banyak gedung-gedung tinggi tentu menjadi suatu masalah tersendiri, yang menghalangi pandangan kita bila ingin melihat pelangi.

Nah, jika dulu pelangi melambangkan sebuah keindahan dan keberkahan (pokoknya sesuatu yang baik-baik, deh), kini pelangi digunakan oleh sebagian orang untuk mewakili golongan tertentu. Golongan tertentu ini mendapatkan “hak” nya setelah mereka diakui secara resmi oleh Paman Sam (Amerika Serikat).

Continue reading “Pelangi Kini Tak Seindah Dulu Lagi”

Surat Terbuka Kepada Dubes RI Singapura, Bapak Andri Hadi

Assalamu’alaikum wr. wb.

Yang terhormat Duta Besar LBBP RI untuk Republik Singapura, Bapak Andri Hadi, sebelumnya izinkan kami untuk menyampaikan salam hormat kepada Bapak serta mohon maaf atas kelancangan kami untuk menulis surat terbuka ini. Surat ini tidak bermaksud apa-apa, hanya sebagai sebuah bentuk apresiasi kepada Bapak dan Ibu yang nyata-nyata telah menebarkan energi positif, tidak hanya di dalam lingkungan KBRI Singapura semata, namun juga di lingkungan negeri Singapura pada umumnya.

Bapak Dubes Andri Hadi dan Ibu Ferial Hadi
Bapak Dubes Andri Hadi dan Ibu Ferial Hadi

Continue reading “Surat Terbuka Kepada Dubes RI Singapura, Bapak Andri Hadi”

Singgah Sejenak ke Geneva (Jenewa)

Peta Swiss
Peta Swiss

Geneva atau biasa kita sebut dengan Jenewa adalah salah satu kota di Swiss yang berdekatan dengan negara Perancis. Di kota inilah banyak terdapat kantor-kantor Organisasi Internasional, seperti PBB, ILO, WHO, dan UNHCR. Ya, selain di New York, PBB juga memiliki Markas Besar untuk wilayah Eropa yang berada di Geneva. Di Geneva ini pula banyak ditelurkan berbagai macam konvensi atau perjanjian Internasional yang kemudian diratifikasi / diakui oleh sebagian besar negara-negara di dunia.

Entah ada kaitannya atau tidak, dengan banyaknya Organisasi Internasional yang berkantor di kota ini, dulu Geneva pernah dinobatkan sebagai kota dengan biaya hidup paling mahal di dunia. Sebelum akhirnya rekor tersebut berhasil diambil oleh Singapura. 😳

Mengapa saya mengambil kesimpulan demikian? Karena dengan banyaknya Organisasi Internasional yang berkantor di Geneva, maka otomatis banyak orang asing / expatriat yang tinggal di kota tersebut. Biasanya, kota yang banyak ditinggali oleh kaum expatriat, biaya hidupnya akan selalu meningkat. Tapi hipotesis saya ini belum tentu benar 100 %, loh ya. :mrgreen:

Pada beberapa postingan sebelumnya saya sempat menceritakan bagaimana perjalanan saya menuju Zurich, sekilas mengenai Bern – ibu kota negara, dan sedikit mengenai Interlaken, sebagai salah satu tempat wisata alam terindah di Eropa. Nah, rasanya kurang lengkap jika saya belum meceritakan bagaimana kunjungan singkat saya ke Geneva. 😎

Pada perjalanan di kota-kota sebelumnya saya biasa menggunakan sarana transportasi kereta api. Namun kali ini sedikit berbeda. Karena ada salah satu rekan senior yang kebetulan mengantar tamu ke Bern dengan menggunakan mobil, akhirnya saya nebeng beliau untuk menuju ke Geneva.

Pada waktu itu kami berangkat dari Bern sudah menjelang petang, sehingga agak sulit untuk mengabadikan pemandangan di sepanjang jalan. Tapi pada umumnya hampir sama dengan pemandangan yang ditemui di Zurich maupun Bern. Hamparan padang rumput hijau yang luas dengan bangunan yang jarang-jarang dihiasi oleh pepohonan yang sudah mulai menguning karena sudah memasuki musim gugur.

Kami menempuh perjalanan melalui jalan tol dengan rute Bern – Geneva via Lausanne selama kurang lebih 3 jam. Hujan deras yang mengguyur sepanjang perjalanan dan hari yang mulai gelap, membuat kami lebih berhati-hati. Bahkan, sebelum memasuki kota Geneva, kami sempat berhenti terlebih dahulu untuk mengisi bahan bakar sekaligus membeli minuman hangat.

Mulai mendekati Geneva, papan-papan petunjuk arah dan reklame mulai berubah. Jika sebelumnya menggunakan Bahasa Jerman, maka kini mulai menggunakan Bahasa Perancis. Pun demikian dengan orang-orangnya. Logat sengau khas Perancis terdengar lebih dominan.

Sampai di apartemen teman saya waktu itu sudah malam, sekitar jam 10 an. Kebetulan rekan senior dan teman saya ini tinggal dalam satu gedung apartemen yang sama namun berlainan unit. Setelah membongkar titipan oleh-oleh, seperti biasa kami melewatkan malam dengan mengobrol ngalor ngidul, mengenang kembali masa lalu.

Keesokan paginya, kami bertiga menuju ke kantor PTRI Jenewa. Jalur yang kami lintasi lumayan padat, meskipun tidak separah Jakarta. Dibandingkan dengan KBRI Bern, gedung kantor PTRI Jenewa menurut saya sedikit lebih besar. Meskipun bangunannya lebih pantas disebut sebagai rumah tinggal ketimbang kantor. :mrgreen:

PTRI Jenewa
PTRI Jenewa

Continue reading “Singgah Sejenak ke Geneva (Jenewa)”